Sedikit yang mengetahui
bahwa Cinta Zulaikha pada Yusuf sudah mulai jauh sebelum Zulaikha menjadi
isteri seorang wasir.
Satu malam yang tenang,
langit bersih tampak bintang gemintang ribuah .. tidak jutaan seolah menempel
di langit yang hitam pekat. Angin yang basanya kencang kini terasa lembut.
Ketenangan malam seolah mempesona tetumbuhan untuk tidak menggoyangkan
dedaunannya.
Sang Putri Zulaikha tidur di
peraduan dengan nyenyaknya.
Seolah kabut yang
berwarnawarni hadir dalam mimpinya, dan ditengah-tengah keindahan alam mimpi
yang tak terlukiskan, sosok pemuda yang Agung dan mempesona hadir di
tengah-tengah taman.
Sungguh keindahan alam mimpi
yang sebelumnya, Keindahan warna-warni yang sebelumnya mempesona, Kini seolah
tenggelam ditelan pesona wajah agung nan rupawan si pemuda.
Sang putri yang menyaksikan
itu merasa dadanya berguncang hebat, hatinya jatuh cinta pada sang pemuda.
"Duhai..siapakah..siapakah..siapakah
dia ???"
Bangun dari tidurnya,
Zulaikha termangu-mangu, Hangat sinar
mentari sudah terlanjur merasuk di hati,
Cinta pada sang pemuda dalam
mimpi sudah menyelusup masuk ke pori-pori,
"Duhai, Siapakah kini
yang dapat membawa dia kehadapanku Engkaukah angin ?
Yang sanggup menyampaikan
rasa cintaku padanya ? Atau engkaukah air ?
yang dapat mengalirkan
anggur cintanya kepadaku ? Atau engkaukah bumi ?
yang dapat mempertemukanku
dengan sang pujaan hati ?
Api telah membakar seluruh
isi hatiku."
Malam-malam kini dilaluinya
dengan memohon, memohon dan memohon, Agar ia dipertemukan dengan sang pemuda
pujaan dalam mimpinya. Satu waktu, kembali mimpi membawa sang pemuda
kehadapannya,
Zulaikha
bertanya,"Siapakah engkau Tuan ? yang telah menyita seluruh perhatianku ?
yang telah menghabiskan siang dan malamku untuk mengingatmu ? Siapakah engkau
?"
Sang pemuda berkata,
"Aku Wazir Agung dari
Mesir"
Begitu bangun, Zulaikha
berupaya dengan segala cara, Agar ia dipertemukan dengan Wazir agung mesir.
Ia berkata pada ayahanda,
agar ia dikawinkan dengan Wazir Agung Mesir.
Sang ayah terdiam dan
kemudian ia ingin menjajaki sampai dimana keinginan anaknya terhadap Wazir
Agung Mesir.
Maka suatu hari, diundanglah
sang Wazir.
Dari balik pintu, Zulaikha
mengintip dengan dada berdegup kencang.
"Diakah...diakah orang
yang telah merampok hatiku ?".... Begitu di lihatnya wajah
sang Wazir, alangkah kecewanya ia, bukan-bukan orang yang
diharapkan.
Tiba-tiba ia mendengar
sebuah suara, "Melalaui wazir inilah,
engkau akan bertemu pujaan hatimu". Zulaikha yang sudah lemah
lunglai, hampir putus harapan, kini kembali bersemangat.
Api harapan dan hangatnya
pertemuan yang diinginkan dengan sang pujaan mengalami proses ujian.
Ia tetap melangsungkan
pernikahannya dengan wazir Agung.
Keanehan terjadi pada
Zulaikha dan Wazir Agung,
Mereka tak bisa sebagaimana
laiknya suami isteri,
Alloh telah menjaga harum
melati dan menjaga mawar tetap berseri.
San Wazir menerima apa
adanya takdir yang terjadi.
Demikianlah...;. Lama tak
ada mimpi sang pujaan sama sekali, Ingin sekali ia menyebut-nyebut nama sang
pemuda, tapi ia tak tahu siapa namanya. Hanya bayang-bayang sang pemuda yang
tak lepas dari angan angannya. Siang malam, siang malam, dihabiskan mengingat
orang yang dicintainya. Sampai satu waktu, mimpi menghantarkan sang pujaan lagi
ke hadapannya. Zulaikha bertanya, "Siapakah Tuan yang memiliki wajah
separo manusia dunia ?"
"Siapakah nama Tuan
?"
Si pemuda tersenyum,
Senyumnya menghidupkan tetumbuhan yang mati disekelilingnya,
Menyegarkan yang layu,
Menyembuhkan hewan-hewan yang sakit.
"Aku Yusuf...;."
Byaar...;
Zulaikha terbangun dari
tidurnya, Kini bayang Yusuf tlah
bertambah dengan bibir Zulaikha yang terus menggumamkan Nama
Yusuf..Yusuf..Yusuf...;
Apa saja yang berbau nama
Yusuf, akan didatanginya sambil berharap ia adalah pujaan hatinya.
Satu waktu terdengar khabar
ada seorang budak yang bernama Yusuf di pasar, Bergegas ia mengajak
dayang-dayangnya ke sana.
Dengan tandu yang dipanggul
oleh budak-budaknya,
Diiringi oleh
dayang-dayangnya, Zulaikha datang di pasar budak itu.
Diintipnya dari tirai
tandunya yang berwarna kuning muda.
"Tuhan !!"pekiknya
tertahan,..........
"i..ii..ia ..dia yang
ada dalam mimpiku !"
"Pelayan beli budak
yang dipasar itu. Berapapun harganya beli. Jangan sampai kedahuluan oleh orang
lain. Kalau perlu, katakan pada mereka, isteri wazir Agung Mesir yang membeli
budaknya"
Dengan harga yang mahal,
emas perak dan berlian, sejak saat itu,
Yusuf menjadi budak wazir
dan isterinya,
Zulaikha menyuruh
budak-budak yang lainnya melayani Yusuf, Memberinya pakaian yang indah bagi
seorang budak, dan Memberinya makan makanan yang biasa dimakan olehnya dan
wazir.
Para budak iri tapi terpendam dalam hati.
Mulai hari itu, Zulaikha
mencari jalan agar dapat menarik perhatian Yusuf,
Dengan lemah lembut dalam
pembicaraan, dengan memberi Yusuf pakaian yang indah-indah, dengan memberinya
minuman yang menyenangkan, bukannya Yusuf yang meladeni Zulaikha bak budak
terhadap majikannya, melainkan Zulaikha yang melayani Yusuf bak budak terhadap
majikannya.
segala cara tuk menggoda
sudah dipakai, tapi Yusuf tidak bergeming. Yusuf tidak menunjukkan cintanya,
melainkan hanya menunjukkan hormat dari seorang budak pada majikannya.
Zulaikha bebas melakukan apa
saja sebab sang wazir hampir tidak pernah berada di rumah. Suatu ketika di
ajaklah Yusuf berjalan menuju lorong-lorong kamar, masuk kamar keluar kamar,
masuk kamar lagi keluar kamar yang lainnya, sampai kamar yang terakhir, sudah
ada 12 pintu yang mereka lewati.
Tanpa sepengetahuan Yusuf,
seluruh pintu-pintu kamar itu dikunci oleh Zulaikha, dan kuncinya disimpan
diam-diam.
Di kamar yang terakhir itu,
jauh dari orang lain, jauh dari keramaian apapun.
Zulaikha sudah tak dapat
menahan kerinduannya pada Yusuf yang sudah terpendam selama bertahun-tahun.
Ia mendekat pada yusuf, tapi
Yusuf menghindar, demikian selanjutnya, Zulaikha mendekati Yusuf, Yusuf
menghindar lagi dengan agak ketakutan, Sampai satu waktu ketakutan Yusuf
memuncak. Ketika Zulaikha mendesaknya, Ia tak mau menjatuhkan dirinya ke lembah
nista,
Yusuf membalikkan
punggungnya, ia berlari menuju pintu kamar itu.
Zulaikha tak mau Yusuf pergi
dari kamar itu, ia mencoba menahannya dengan menarik tubuh Yusuf.
Yang terpegang adalah baju
Yusuf, Robeklah baju, berbareng dengan Yusuf lari keluar,
Seolah Tuhan sendiri yang
membuka pintu-pintu itu, Setiap kali Yusuf berhadapan dengan pintu-pintu yang
terkunci, setiap kali pula pintu-pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Aib kejadian itu
terbongkarlah sudah, Orang-orang umum mencemooh Zulaikha.
Zulaikha hanya diam, sebab
orang lain tak merasakan apa yang dirasakannya sekian tahun,
Zulaikha hanya tertunduk,
sebab orang lain tak tahu bagaimana rindunya tertahan bertahun-tahun, Beberapa
hari kemudian, ia mengundang seluruh gadis-gadis yang mencemoohnya. Zulaikha
mendandani Yusuf bak seorang Raja.
Setelah semua gadis-gadis
itu diberi apel dan sebuah pisau untuk mengirisnya, Yusuf diperintah untuk
berjalan melewati mereka.
Mulut ternganga, Lidah kelu,
Mata terpesona, Tak terasa jari-jari mereka yang dikupas dengan pisau.
Darahpun mengucur dari jari
para gadis.........
Bagaimana tidak, pemilik
separo wajah tampan dunia berjalan dengan anggunnya,
"itu bukan..bukan
manusia....." teriak mereka tertahan...
"siapakah pemilik wajah
malaikat itu ?" "siapa..siapa ?"
Zulaikha tersenyum, para
gadis itu telah tahu bahwa sungguh satu hal yang wajar, bila Zulaikha terpikat
dengan Yusuf...
Berita tentang kejadian itu
dan kejadian Yusuf terdengar juga ke telinga wazir... Yusuf dipanggil terlebih
dahulu, Zulaikha yang dipanggil kemudian merasa, pastilah Yusuf sudah berkata
apa adanya kepada suaminya, sebab ia tahu...Yusuf tak bisa berbohong....
Rasa cinta yang tak terbalas
dari Zulaikha dan ketakutan serta rasa malunya sebab masalah itu sampai ke
hadapan wazir menyebabkan ia berubah, Rasa cinta yang tertolak menyebabkan
butuh pelarian pada rasa sebaliknya, maka ia berteriak, "Budak tuan wahai
wazir...!!! telah bertindak tidak senonoh kepada hamba sebagai
majikannya..."
Wazir tersentak, sebenarnya
Yusuf tidak berbicara apapun sejak tadi dihadapannya, tetapi begitu isterinya
Zulaikha berkata seperti itu, langsung saja sang Wazir percaya, "Engkau
Yusuf...sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, mengapakah engkau melakukan
perbuatan yang rendah seperti itu ???"
Yusuf diam, seandainya ia
membuka kejadian sebenarnya, tentulah aib Zulaikha terbongkar dan itu juga aib
sang wazir. Yusuf memilih diam...
"Pengawal !!! Jebloskan
budak ini ke dalam tahanan !!", teriak sang wazir.
Bergegas beberapa pengawal
berlari dan menyeret Yusuf untuk dijebloskanb ke penjara.
Zulaikha tersenyum.. ada
rasa senang dalam hatinya sebab bisa menutupi aibnya, ada rasa senang dalam
hatinya sebab sudah bisa mempermainkan Yusuf yang telah menolak keinginannya,
ada rasa senang dalam hatinya sebab ia telah dapat mempengaruhi sang wazir untuk
memenuhi keinginannya, pelampiasan tertolaknya cinta dalam dirinya.....
Yusuf-pun masuk kedalam
penjara di bawah tanah, dalam penjara batu yang ditutup jeruji-jeruji besi.
Tembok batu yang lembab, tanah alas yang berlumut dan sebuah dipan dari kayu besi
yang kotor......
Malampun tiba, Yusuf asyik
bertafakur tentang kebesaran Tuhannya dan bertafakur tentang kejadian-kejadian
yang selama ini menimpanya, Maka teringatlah ia perjalanan hidupnya selama
ini...
Ketika kelahirannya
menyebabkan saudara-saudaranya kurang mendapatkan perhatian dari sang Bapak...
Ketika kelebihan-kelebihan
ada pada dirinya ....
Ketika ketampanan yang tak
pernah dimiliki siapapun ia bawa mulai lahir....
dan ketika satu waktu ia
bermimpi......
RIWAYAT BAZIGHAH
Tersebutlah sebuah kisah,
dikerajaan Mesir, tinggallah seorang putri yang cantik jelita, kaya raya,
pandai, dan keturunan tertinggi dari raja-raja zaman dahulu...
Rambutnya bak mahkota yang
cemerlang, kilau kemilau rambutnya yang kehitaman, matanya bersinar cerah, bak
mentari pagi yang baru bangun dari tidurnya... keindahan tubuhnya dan
kecerdasan akal pikirnya menjadikan kesempurnaan di dalam dirinya. Berapa
banyak pengeran-pangeran dan pemuka yang melamarnya, tak ada satupun yang
singgah di hatinya.
Setiap sang putri berjalan
keluar, maka bencanapun menjelang, mata-mata laki-laki yang tergerak alami
untuk melihatnya, dan mata-mata wanita yang terpana sebab kekagumannya....
beberapa tidak kuat untuk melihat sebab rindu dan cintanya yang menggebu.
Tapi tak ada satupun yang
singgah dihatinya.
Berita tentang keelokan
Yusufpun terdengar olehnya. Makin hari makin santer, dan seolah bedug yang
ditabuh setiap hari, degup jantung Bazigha berdegup semakin kencang ketika nama
Yusuf dikumandangkan...
Keinginannya tak dapat
ditahan lagi kini, ia mengepak dan memberesi harta kekayaannya untuk dimasukkan
kedalam peti-peti, dan berangkatlah ia untuk melihat sendiri sang budak, dan
kalau mungkin membelinya"...Yusuf..Yusuf...tunggulah kedatanganku".
Dengan kesulitan yang cukup,
dan perjalanan yang melelahkan, Bazigha dapat bertemu dengan Yusuf sendiri.....
Bazigha tersentak, matanya
terbelalak, Lidahnya kelu, dunia seolah berputar, ia tidak sanggup bertemu
wajah tampan sang Yusuf... ia pingsan.....
Beberapa lama berlalu,
ketika angin semilir menerpa wajahnya, dan ia bangkit dari siumannya, nafasnya
yang semula memburu kini sudah teratur... perlahan ia menata kata-kata,
"Yusuf...siapakah yang telah melukis dirimu ? keagungan Maha Karya ada
padamu...Siapakah gerangan yang menciptakan kening cemerlang dan wajah bersinar
ini ? Siapakah yang mengadakan wujud malaikat ini ? Tak kan ada yang sanggup untuk tidak jatuh cinta
kepadamu......."
Yusuf menjawab, "Saya
adalah hasil karya Agung Sang Maha, Dia tidak tidur dan Dia tidak mengantuk.
Saya hanyalah setitik dari tinta Pena, Qolam sang Maha, Yang tidak beranak dan
tidak diperanakkan. Saya hanyalah pantulan bayang-bayang keindahanNya. Jagad
Raya alam semesta dan isinya ini hanyalah pantulan dari cahaya diriNya,
hanyalah setetes air dari lautan Rahasia PenaNya....
Tersembunyi di balik tirai
rahasia keindahanNya, tersembunyi di balik tirai kegelapan dan tirai cahaya
yang terang cemerlang... Terhidar dari ketidaksempurnaan. Dari atom dunia, ia
melemparkan cermin pada masing-masingnya, dan Dia membiarkan bayangan dari
wajahNya... dan bagi mata yang terbuka, setiap keindahan hanyalah bayangan dari
wajahNya.
Kesanalah semua cinta..
Kesanalah semua cinta...
Mulailah segera, menuju
kepada sumbernya, kalau engkau mencintai apa yang tampak, itu hanyalah pantulan
dari wajahNya. Bila engkau menghendaki keabadian, kesanalah arahnya. Dan bila
engkau menghendaki ketulusan, berpalinglah dari yang lainnya. Mengapakah kau
rendahkan dirimu untuk sesuatu yang fana ? Mengapakah engkau rendahkan dirimu
untuk mencintai sesuatu yang hanya bayangNya ?
Seolah matahari membuka alam
pikirnya, seolah sang mentari turun ke dalam hati Bazighna,
Ia kini telah tahu, kemana
cintanya harus dituju.......
Nafsu jasmani pada Yusuf
yang tadi menggebu, kini hilang lenyap, yang ada kerinduan yang tulus, untuk
memulai berjalan menuju sumber keindahan...
"Yusuf...terima kasih
ku pada pertemuan ini, terimakasihku pada sumber segala sumber cahaya, dan jika
setiap diri di dalam tubuhku, jika setiap sel dalam diriku berucap terima
kasih, itu tidak cukup untuk mengganti apa yang telah kamu beritakan kepadaku
ini..."
Kemudian Bazignha
mengucapkan selamat tinggal kepada Yusuf,
Ia kembali ke rumahnya di Mesir,
anak yatim dan fakir miskin dikumpulkannya, dibagikannya seluruh harta
kekayaannya. Dan berbekal baju yang sederhana serta tasbih, ia mulai melakukan
perjalanan menuju Tuhannya, Sumber segala sumber Keindahan, Sumber dari bayang
keindahan sang Yusuf...... ketika satu waktu ia bermimpi.... dan mimpinya itu
ia ceritakan kepada sang Bapa....
"Bapa...aku telah
bermimpi.. Bahwa sesungguhnya matahari, bulan dan sebelas bintang, semua
bersujud dihadapanku"
Kemudian sang Bapa yang
paham berkata, "Simpanlah mimpimu. Jangan sampai diketahui oleh
saudara-saudaramu, sebab nanti mereka akan berbuat makar terhadapmu"
Kemudian sang Bapa
melanjutkan, "Sebagaimana yang kau lihat arti mimpimu itu ialah bahwa
Tuhan hendak memilihmu, mengajarmu menafsirkan mimpi-mimpi dan melimpahkan
karuniaNya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana yang telah
dilimpahkan kepada kedua orang kakekmu Ibrohim dan Ishak dahulu. Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Mengetahui dan Bijaksana".
Tembok Penjara yang
berlumut, lembab, seolah mengiringi ingatan Yusuf di kala itu....
Kemudian ia teringat
pengalamannya setelah itu...
Yusuf di ajak ke sebuah
hutan, kemudian beramai-remai saudaranya menceburkan dirinya ke dalam sebuah
sumur yang tak berair, beberapa waktu yusuf berada di dalam sumur sampai sebuah
rombongan kafilah lewat dan menolongnya..mereka kemudian menjual murah Yusuf
sebagai seorang Budak.
Sampai ia ditemukan dan
dibeli oleh Zulaikha, wanita yang sangat mencintainya dan sekaligus wanita itu
pula yang telah menjadi sebab masuknya Yusuf dalam penjara....
Yusuf tersenyum ketika
teringat saat dirinya dipasar diperebutkan oleh banyak orang dilelang untuk
dibeli sebagai budak.
Seorang wanita tua yang
sangat miskin, hanya memiliki segulung benang dan sebuah jarum, turut serta di
dalam pelelangan untuk mendapatkan Yusuf.
Banyak orang berteriak dan
bertanya, "apa yang bisa kamu lakukan untuk membayarnya nenek tua
???" si Nenek serius menjawab. "Sebuah gulungan benang dan sebuah
jarum yang sekarang ini berada di tanganku".
Yusuf tersenyum dan ia
bertanya, "Mengapakah itu nenek lakukan ? meskipun tahu bahwa tak mungkin
nenek menang dalam pelelangan ini ?"
Si nenek tersenyum pada
Yusuf dan berkata, "Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan. Tetapi seandainya
aku kalah di dalam memperebutkan kamu, paling tidak semua orang tahu bahwa
meski aku tidak punya apa-apa, mereka tahu bahwa aku pernah ikut memperebutkan
kamu". "Semoga penciptamu juga menjadikan perbuatanku ini sebuah
perbuatan baik. Untuk ikut serta memperebutkan kamu makhluk ciptaannya yang
istimewa..."
Lama Yusuf tafakur, menguang
kembali apa yang telah dialaminya untuk diambil sebagai hikmah......
Termasuk sampainya ia
dipenjara ini, memang ia berdoa kepada Tuhannya, "Wahai Tuhanku! Aku lebih
suka dipenjara daripada aku harus melakukan ajakan mereka (Zulaika dan para
wanita lainnya). Dan jika sekiranya Engkau tidak menghindarkan diriku dari
jeratan mereka, tentu aku akan terpikat oleh cumbu rayunya dan pastilah aku
terbilang orang yang bodoh"
Mungkin tak disadari Yusuf,
bahwa setiap malam, Zulaikha bersembunyi di balik lorong penjara dan memandang
wajahnya...
Bagaimana tidak, hati dara
yang telah dimabuk cinta.... membuat ia gelisah dan merasa bersalah... Ya sebab
ialah kini Yusuf dipenjara.. Ya.... Sebab ialah, yang sebelumnya ia bisa
memandang wajah Yusuf secara langsung, kini sejak Yusuf dipenjara, ia Zulaikha,
hanya dapat memandangnya dari kejauhan dan dari balik jeruji besi penjara....
Pagi hari, barulah zulaikha
kembali ke peraudannya, dan malam hari, selalu dan selalu, Zulaikha menelusuri
lorong-lorong rahasia penjara untuk bisa melihat Yusuf dari kejauhan...
Airmatanya perih... hatinya
pedih... bagaimana tidak, bila yang mencinta berpisah dari yang dicinta.......
Bersamaan dengan Yusuf di
penjara, masuk pula dua orang pemuda ke dalam penjara itu. Salah satu adalah
penjual anggur, dan satunya adalah penjual roti.
Si penjual anggur berkata
kepada Yusuf, "Sesungguhnya aku bermimpi memeras Anggur".
sedangkan si penjual roti
berkata pula kepada Yusuf, "Akupun bermimpi pula menjunjung roti di atas
kepala, sebagian habis dimakan burung. Coba terangkan kepada kami apa arti
mimpi kami itu. Kami melihat anda adlaah termasuk orang-orang yang memiliki
kejernihan berpikir"
Yusufpun berkata,
"Sebelum datang orang yang mengantarkan ransum kepada kalian, maka aku
sudah dapat menerangkan isi makanan itu. Itu suatu ilmu yang diajarkan Alloh
kepadaku. Sebenarnya aku sudah meninggalkan agama orang-orang yang tidak percaya
kepada Alloh dan hari kemudian"
Yusuf melanjutkan, "AKu
mengikut agama para bapakku, Ibrohim, Ishak dan Yakub. Tiadalah patut bagi kami
untuk mempersekutukan Alloh dengan sesuatu. Hal ini adalah demi karunia Alloh
yang dilimpahkan kepada kami dan kepada umat manusia. Tetapi kebanyakan orang
tidak berterima kasih".
"Hai kawanku sepenjara.
Adapun salah seorang dari kalian akan menjadi pelayan minum anggur untuk raja.
Sedangkan yang lainnya dia akan disalib dan kepalanya akan dimakan burung. Apa
yang kalian tanyakan telah terjawab".
Sebelum kedua temannya itu
keluar dari sel penjara, Yusuf menitipkan pesan kepada seorang diantara
mereka,"Ceritakanlah perihalku ini kepada tuanmu".
Demikianlah, kebenaran yang
ada di lidah Yusuf, si tukang anggur benar-benar menjadi pelayan raja dan si
tukang roti benar-benar disalib dan kepalanya dimakan burung.
Tetapi si tukang anggur
terbius setan, sehingga tidak diceritakannya kepada tuannya tentang keadaan,
sebab musabab, dan perihal Yusuf. Maka Yusufpun tinggal lebih lama dipenjara.
Malam setelah peristiwa
Yusuf menitipkan pesan kepada si Tukang Anggur, di dalam kesendirian hati, di
dalam keheningan jiwa, di dalam kejernihan pikiran, Yusuf mendengar teguran
Tuhan, "Yusuf, masihkah engkau mencari pertolongan kepada selain Aku
?" "Bukankah Aku sudah menjamin keselamatanmu ?! Bukankah aku selalu
mengabulkan doa-doamu ?!, Mengapakah engkau masih mengharap pertolongan dari
manusia yang juga makhluk-makhluk-Ku ???"
Yusuf tertunduk, memohon
ampun kepada Alloh, Ia semalaman tidak tidur beristighfar terus menerus, dan
berhari-hari......
Sampai satu saat, Alloh
telah mengampuni Yusuf........
Satu waktu, sang Raja
kebingungan sebab mimpinya semalam, Seluruh penasehat cerdik pandai di panggil
dan dikumpulkan, Kemudian sang Raja bersabda, "Aku bermimpi melihat tujuh
ekor sapi gemuk-gemuk di telan oleh tujuh ekor sapi kurus-kurus, dan aku lihat
pula tujuh tangkai biji-bijian yang bernas menghijau dan tujuh tangkai lagi
kering menghampa. Hai para pembesar, Coba terangkan kepadaku arti mimpiku itu,
kalau kalian dapat mengartikannya"
Mereka menjawab, "Itu
mimpi hampa, kosong belaka. Dan sebenarnya kami bukan ahli tebak mimpi" tak ada yang dapat
menerangkan, tak ada yang dapat menjelaskan,
"duhai.... kebingungan
apakah ini ?" kenapa mimpi-mimpi begitu jelas terjadi ... tapi tak ada
satupun yang dapat mengerti.. tak ada satupun yang dapat memahami..."
Sang pelayan anggur bekas
teman sepenjara Yusuf pun mendengar apa yang sedang terjadi, tak pelak ia ingat
akan Yusuf sang ahli mimpi, kemudian ia menghadap raja dan berkata, "duhai
sang Raja junjungan hamba, di dalam pekatnya penjara, dan di dalam gaduhnya
teriakan-teriakan siksa, hamba memiliki seorang teman yang dapat mengerti apa
arti mimpi, bahkan sebelum engkau menceritakannya..."
"Duhai sang Raja,
biarlah aku bawa perkara mimpi ini kepada orang yang mengetahuinya, suruhlah
aku brangkat ke sana..."
Kemudian berangkatlah si
pelayan anggur ini menemui Yusuf, "Hai Yusuf sang Sinatrya, terangkanlah
kepada kami tentang melihat tujuh ekor sapi gemuk-gemuk di telan oleh tujuh
ekor sapi kurus-kurus, dan aku lihat pula tujuh tangkai biji-bijian yang bernas
menghijau dan tujuh tangkai lagi kering menghampa. Sangat diharapkan aku dapat
kembali menemui pihak yang berkuasa. Mudah-mudahan mereka dapat
mengenalmu"
Berkatalah Yusuf, "Kamu
harus bercocok tanam selama tujuh tahun secara terus menerus. Dari hasil panen yang
kamu pungut, simpanlah dengan tangkai-tangkainya. Hanya sebagian kecil saja
yang boleh kamu makan. Selanjutnya nanti akan datang masa paceklik pada tujuh
tahun berikutnya, yang akan menghabiskan persediaan yang telah kamu sendirikan,
hanya sedikit saja yang dapat kamu sisakan. Sesudah itu, akan datanglah musim
dimana manusia akan banyak mendapatkan hujan, dan pada tahun itu orang akan
dapat mengilang anggur dan membuat minyak."
Kemudian sang pelayan anggur
menyampaikan apa yang didengarnya dari Yusuf kepada sang Penguasa.
Raja kemudian berkata,
"Bawalah dia ke sini menghadap aku"
Kemudian Yusuf di panggil
dan diambil dari penjara untuk dihadapkan pada sang Raja.
Yusuf tidak mau keluar hanya
sebab alasan itu, ia ingin kebenaran dan keadilan ditegakkan, Yusuf berkata
pada utusan yang akan menjemputnya, Pergilah kamu kepada tuanmu. tanyakan
kepadanya, bagaimana sebenarnya tentang kaum wanita yang memotong jari
jemarinya itu ?"
Mendengar berita dari
utusannya, sang Rajapun memanggil para wanita dari tempat Yusuf sebelumnya
berada.
Bendera kerajaan dikibarkan,
terompet-terompet pemanggil orang ditiupkan,
Zulaikha yang selama ini
terus dirongrong dengan perasaan bersalahnya, melihat kesempatan yang baik
untuk menunjukkan kebenaran Yusuf.
Bagimana tidak, Rasa
cintanya kepada Yusuf tidak berkurang dan tidak memudar,
tak lapuk sebab panas .....
tak lekang sebab hujan....
Siang panas terik mentari
bibir Zulaikha kering sebab tak pernah berhenti menyebut-nyebut nama Yusuf...
"Yusuf...Yusuf....Yusuf...."
Apalagi ketika malam
menjelang, bintang gemintang telah terpaut satu persatu menempel di
dinding-dinding langit.... sinarnya berganti-gantian seolah menyapanya...
kesedihan hati semakin dalam, bagaimana tidak, rasa bersalah semakin menggurat
di dalam akar jiwa, orang yang ia cintai, ia juga yang menjebloskannya ke dalam
penjara...
Kalau selama ini malu akan
dirinya yang telah mengajak Yusuf berbuat aib, maka ingin lah hatinya agar satu
ketika ia dapat mengganti kesalahan ini, biarlah orang melihat kejelekan
dirinya, biarlah orang menghina dirinya, biarlah orang mencaci dan memaki dirinya,
akan apa yang telah diperbuatnya terhadap Yusuf. Asalkan ia bisa mengganti rasa
bersalahnya kepada Yang dicinta... asalkan ia tidak bersalah terhadap yang
dicinta..... keridhoan Yusuf adalah segalanya..... keridhoan Yang dicinta
adalah segala-galanya....
Ketika para wanita sudah
berkumpul.... wanita-wanita yang telah mengiris jarinya dan.. yang begitu
mencintainya yang telah menjebloskan Yusuf ke dalam penjara..... Zulaikha......
Raja bertanya kepada mereka,
"Apakah sebenarnya yang telah terjadi ? sampai kalian hendak mencumbu rayu
Yusuf ?"
Mereka
menjawab,"Naudzubillah, semoga Tuhan melindungi kami. Sepanjang
pengetahuan kami, sedikitpun dia tidak mungkin berbuat cabul"
Raja kemudian bertanya
kepada Zulaikha, "apakah yang sebenarnya telah terjadi ? Benarkah Yusuf
telah memaksakan kehendaknya kepadamu ?
Benarkah sang kumbang ingin
hinggap dalam sari bungamu ?
Benarkah sang mentari ingin
menghangati dirimu dengan sinarnya ?
Benarkah logam mulia akan
menjerumuskan dirinya ke dalam lumpur ?
Zulaikha yang memang hendak
berkata benar tak kuat lagi menahan kata, "Nah... dengarkanlah kalian
semua... aku yang mengalami, dan aku yang akan mengungkap kebenaran kejadian
waktu itu..... Sampai baju Yusuf robek...."
Zulaikha terdiam menahan
perasaannya yang menyesak di dada... Bergulung-gulung mendesak, seolah ingin
keluar bersamaan dari dalam dadanya.. perasaan yang bertahun-tahun tertahan...
ya... kebenaran akan peristiwa itu....
Semua terdiam... penonton
terdiam.... Rajapun tak berani bersuara.... para hulubalang...para gadis-gadis
menahan nafasnya... tegang !
Seolah bendungan jebol.
seolah mega yang pekat tak kuat lagi menahan air hujan, Zulaikah setengah
berteriak dengan menangis berkata, "Akulah yang mencumbu rayu dia. Tetapi
dia tidak mau melayani aku. Dan dialah yang berada di pihak yang benar"
kemudian Zulaikha tertunduk lesu... ia menangis sesenggukan... tangan kirinya
mengusap air mata yang keluar... terisak-isak sebab malu bercampur sedih,
bercampur dengan kerinduannya kepada Yusuf yang sangat...
Dan diantara isak tangisnya,
dengan terbata-bata ia berkata, "Aku...akk..aku mencintai Yusuf......
Sejak aku bertemu ia dalam mimpiku....jauh sebelum aku menikah dengan sang
wazir yang kini telah tiada... hari-hari yang kulalui dengan kerinduan kepadanya....
siang kuharapkan bayangnya... malam kuharap datangnya mimpi-mimpi
itu....."
Kembali ia tenggelam dalam
tangisannya.......
Setelah sedikit Zulaikha
dapat menekan perasaannya, ia kembali berkata, "Demikianlah kejadian ini
kuceritakan dengan sebenarnya, agar Yusuf...."katanya tidak berani menatap
mata Yusuf...hanya melirik dengan ujung matanya saja... "agar engkau
Yusuf....tahu.. bahwa aku tidak berkhianat lagi kepadamu... bertahun-tahun
selama engkau dipenjara.... rasa bersalah menjadi bebanku setiap siang dan
setiap malam...."
Bohonglah cintaku sebab
sudah dipenuhi hawa nafsu...... aku telah sengaja menjerumuskan engkau ke dalam
penjara... sementara..sejak saat itu hatiku makin tersiksa.... hatiku perih...
tubuhku sering gemetar menahan kerinduan kepadamu..... Maafkan aku
Yusuf...maafkan aku....."
Air mata Zulaikha yang
semakin deras berderai... Zulaikha membalikkan tubuhnya dan berlari keluar dari
ruangan itu.... tak ada seorangpun yang menghalanginya... tak ada.... Semuanya
seolah terhipnotis... semua terpana.... kejadiannya seolah terjadi begitu cepat.....
Zulaikha makin lama-makin
menjauh..berlari dan menghilang di balik tiupan angin padang pasir....
Tak ada lagi yang
diharapkannya... tak ada.... permintaan maaf pun ia tak berani berharap dari
sang matahari.... Hanya sedikit hatinya terhibur.... tak ada yang bisa
melarangnya untuk terus melantunkan nama itu "Yusuf....Yusuf...Yusuf...
dibibirnya.... cukuplah bagi ia yang mencinta...... dapat menyebut nama yang
dicintainya....
"Yusuf...yusuf...yusuf......"
Angin padang pasir yang
bertiup semilir... menggerakkan debu-debu pasir yang panas mengiringi langkah
Zulaikha... "engkau hendak kemana Zulaikha "...seolah bertanya
begitu.... Tapi langkah kaki yang gontai dari makhluk yang tenggelam dalam
cinta tak mempedulikan semuanya lagi.....
sayup-sayup terdengar suara
bersama deru angin......
"Yusuf...yusuf...yusuf......................................
Setelah semua peristiwa itu,
Raja bersabda, "Bawalah Yusuf kehadapanku, sebab aku akan mengangkatnya
menjadi satu-satunya pembantu pribadiku. "
Yusuf pun menghadap,
kemudian Raja berbicara lagi, "Mulai hari ini engkau menjabat jabatan
tertinggi di sampingku dengan kepercayaan penuh"
Yusuf tidak menjawab, ia
hanya diam saja dan berpikir, kemudian raja bertanya, "Apa yang engkau
pikirkan wahai matahari negeri ini ?"
Yusuf menjawab,
"Angkatlah aku menjadi menteri Perbendaharaan negara! Aku sangat cermat
dan aku dapat mengendalikannya"
Tidak berpikir panjang lagi,
sang Raja mengangguk. Sebab ia tahu, hanya Yusuflah yang tahu perkiraan apa
yang akan terjadi pada negeri Mesir. Dan sang Raja yakin, tentunya Yusufpun
tahu, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang akan terjadi itu.
Demikianlah, ALloh
memberikan kedudukan kuat kepada Yusuf di negeri mesir, sampai ia menempati
kedudukan tertinggi, berkuasa penuh menjalankan kebijaksanaannya, dimana dan
bilamana saja ia suka. Alloh melimpahkan rohmat kepada yang dikehendakiNya.
Yusuf mulai menjalankan
tugasnya sebagai menteri Perbedaharaan negara. Bukannya sibuk berpikir untuk
mendapatkan uang bagi dirinya pribadi.... Bukannya sibuk demi kepentingannya
pribadi... dan Bukannya sibuk demi kepentingan golongan atau
partainya....ups... (melenceng dari pakemnya...he..he..he..)
Yusuf menjalankan pembukuan
yang ketat, pemasukan dan pengeluaran kas negara dicatat dengan teliti,
diawasi, dikontrol, dan dievaluasi....Manajemen langit diterapkan olehnya......
Pejabat-pejabat yang korup diganti, tikus-tikus berdasi jaman dulu dilepas dari
jabatan mereka... Orang-aorang yang tidak punya jiwa pengabdian dan pengorbanan
di berhentikan... Dan diganti dengan orang-orang yang baru... yang masih bisa
dijaga kejujurannya, yang masih bisa dijaga pengabdiannya pada negara... yang
masih bisa diharapkan idealismenya untuk menyelamatkan bangsa dan negara, demi
kesejahteraan rakyat kecil.. Dan bukan hanya slogan-slogan saja, Yusuf
benar-benar menerapkan total Quality Manajemen versi petunjuk Tuhan.....
Lumbung-lumbung sandang,
pangan di siapkan.... Penduduk digerakkan secara nasional untuk ikut
berhemat... bukan hanya rakyat kecil yang mengencangkan ikat pinggangnya, Yusuf
pun memberi contoh dengan makan-makanan yang sederhana..
Sang Raja melihat Yusufpun
menjadi malu, ia kini ikut berhemat....tirakat... sederhana.... makannya,
berpakaiannya..... Sungguh seluruh negeri Mesir berubah sudah..... Mereka
bersama-sama bergotong royong, bahu membahu untuk berhemat dan hidup
sederhana...
Agrobisnis digalakkan, pertanian,
perkebunan, peternakan, apa saja yang memungkinkan untuk dikembangkan semuanya
dikembangkan... dibuatlah pengaturan irigasi untuk yang bercocok tanam..
dibuatlah sumber-sumber makanan bagi ternak...
Meski belum ada suntik buat
ternak, dan belum ada vitamin-vitamin bagi ternak, penelitian para ahli waktu
itu akan jenis tanaman yang dapat meningkatkan hasil juga dikembangkan....
Selama tujuh tahun....
Ya.... Selama tujuh tahun sudah, bukan hanya Yusuf yang bekerja keras,
melainkan seluruh bangsa mesir telah bekerja keras dan telah berhemat, hidup
sederhana.....
Kini mulailah masuk tujuh
tahun yang berikutnya... Hujan mulai jarang-jarang turun...sampai sampai tidak
pernah turun sama sekali... Sungai Nil yang biasanya meluap kini perlahan demi
perlahan, sedikit demi sedikit berkurang airnya, sampai hanya sedikit sekali
yang mengalir... tanaman-tanaman yang selama tujuh tahun tumbuh subur, kini
mulai perlahan layu...layu...dan mati..... Ternak yang semula gemuk-gemuk, kini
mulai terasa jauh berkurang.... Musim paceklik sudah berlangsung..... Mulailah
sedikit-demi sedikit persediaan dipakai untuk rakyat banyak....
Kalau negri sekitarnya
kesulitan makanan dan minuman, tidak demikian dengan negri mesir dibawah
manajemen Yusuf... Rakyat mesir tidak kekurangan bahan makanan dan minuman....
Berita tentang mesir ini
tersiar ke negara-negara tetangga. termasuk juga ke Kanaan, tempat tinggal ayah
Yusuf dan saudara-saudara Yusuf.. Kanaan terkena dampak paceklik yang dahsyat
ini....
Sampai kondisi yang sangat
terdesak, Yakub ayah Yusuf memerintahkan anak-anaknya untuk berangkat ke Mesir,
menghadap pemerintahan Mesir untuk mohon bantuan bahan makanan atau bertukar
bahan makanan dengan barang-barang yang di miliki mereka....
Berangkatlah saudara-saudara
Yusuf ke Mesir... kecuali Bunyamin saudara seayah dan seibu, tapi lain ibu
dengan saudara-saudara yang lainnnya....
Takdir telah mempertemukan
Yusuf dengan saudara-saudaranya. Saudara-saudara Yusuf berdatangan ke Mesir
kecuali Bunyamin, Setelah menempuh perjalanan gurun pasir yang cukup jauh,
dengan peluh pekat dan debu-debu padang pasir yang melekat, mereka mulai
memasuki kota kerajaan, dan mereka terpana..... melihat indahnya relief yang
ada dimesir, dengan corak garis-garis, dengan warna pintu keemasan.... dan
bangunan-bangunan yang besar dan megah-megah...
mulut mereka ternganga...
melihat kesibukan di Mesir yang luar biasa... orang berlalu lalang dengan
cepatnya, masing-masing orang sibuk.. ada yang memanggul karungan beras... ada
yang sibuk menyiapkan air dari galonan air yang bergentong-gentong... ada yang
sibuk berjua beli... terlihat meski dalam kelelahan, penduduk kota itu
tersenyum dan bahagia...
kemudian mereka terus
berjalan, dan kembali mereka terpesona... melihat makanan yang berlimpah di
berpuluh-puluh gudang makanan....
Mereka bertanya kepada salah
seorang penduduk kota kerajaan, dimanakah mereka dapat memperoleh sandang dan
pangan ? seseorang menunjuk dan berkata, "masuk saja di pusat kerajaan.
Sang menteri sendiri yang membagi-bagikan dan ikut langsung mengontrol
pelaksanaan pembagian makanan-makanan....
Merekapun menuju ruang
kerajaan, di depan kerajaan sebelah kanan, tampak antrean orang yang luarbiasa
panjangnya... sungguh luar biasa... mereka semuanya antre... tidak ada yang
berebutan... tidak ada, padahal tidak dijaga satu asykarpun... menilik dari
pakaian-pakaian yang antre... mereka sepertinya datang dari mana-mana, dengan
wajah yang kuyu sebab belum makan, mereka antre untuk mengharapkan mendapatkan
jatah dari sang menteri Mesir.... ada pula beberapa orang yang membawa barang
dagangannya seperti mereka, untuk dapat ditukar dengan bahan makanan.
Hari menjelang sore...
panasnya matahari sudah hampir tak terasa lagi, angin yang siang hari agak
kencang kini berubah sudah menjadi semilir... ketika antrean sudah sampai
kepada mereka, Mereka pun memasuki ruang kerja Yusuf. Yusuf mengenali mereka,
tapi mereka tidak mengenalinya.
Setelah Yusuf memberikan
makanan melebihi jatahnya, ia berpesan, "Bawalah kemari saudara kalian
yang seayah. Bukankah sudah kalian lihat sendiri, bahwa aku menakar makanan
dengan cukup dan menerima tamu dengan ramah ?" Bereka serempak kaget...
Bagaimana sang Mentri tahu bahwa di rumah mereka masih ada saudara yang
tertinggal. Sedikitpun tidak terlintas dipikiran mereka bahwa yang ada didepan
mereka adalah Yusuf saudara mereka.
Setelah berbisik-bisik,
mereka semua kagum, jangan-jangan memang si mentri adalah seorang yang sakti
mandraguna, atau si mentri adalah seorang yang waskita, tahu bahwa mereka masih
mempunyai saudara.
kemudian mereka berkata,
"akan kami usahakan tuan menteri", kata salah seorang saudara Yusuf,
meski dalam hatinya ia sebenarnya ragu, bisa atau tidak mereka minta ijin ke
sang Ayah untuk mengajak Bunyamin ke Mesir. Sebab setelah kejadian beberapa
tahun yang lalu, yaitu ketika Yusuf di ajak oleh mereka ke hutan dan kemudian
dilaporkan ke sang ayah, bahwa Yusuf sudah mati diterkam binatang buas, sejak
itu pula kesedihan sang ayah merasuk..... dan semakin hari kesedihan itu
semakin meningkat.... Mereka sebenarnya ragu-ragu, bisakah mereka mendapatkan
ijin dari sang Ayah untuk mengajak Bunyamin ? apakah sang ayah masih
mempercayai mereka sejak kejadian Yusuf ?
Seolah memecah lamunan,
ketika sang menteri berkata lagi, "Awas... bila kalian tidak membawanya
kemari, maka kalian tidak akan mendapat jatah lagi dariku, bahkan mendekati
mesir ini saja jangan"
Mereka menjawab,"Kami
akan berdaya upaya dengan sungguh-sungguh agar ayah dapat melepasnya kemari dan
pesan itu benar-benar akan kami laksanakan".
Lalu Yusuf menyuruh
pegawainya, Yusuf berkata, "Masukkan kembali barang dagangan mereka ke
dalam karungnya, jangan sampai mereka tahu, agar begitu mereka berada
ditengah-tengah keluarganya, agar mereka mengenal budi baik kita. Mudah-mudahan
mereka kembali lagi kemari" Sambil Yusuf menghela nafas, berharap
datangnya Bunyamin saudaranya seayah seibu yang sangat dirindukannya.....
Rombongan saudara-saudara
Yusuf bergerak pulang ke Kanaan... Antara senang bercampur bingung, antara
bahagia bercampur gelisah.... bagaimana tidak, meski mereka telah mendapatkan
bahan makanan yang cukup untuk beberapa waktu, seandainya mereka butuh makanan
lagi, maka mereka mesti mengajak Bunyamin.
Apakah Nabi Yakub sang ayah
akan mengijinkan Bunyamin di ajak serta nantinya ??? Deru angin padang pasir
sedikit bergulung-gulung, menerbangkan pasir-pasir kecil ke arah wajah
rombongan kafilah itu, Perlahan demi perlahan, mereka memasuki kota Kanaan.
Tatkala mereka sudah bertemu
kembali dengan ayahnya, Nabi Yakub, merekapun menceritakan semua apa yang
terjadi di Mesir. Bagaimana mereka harus antre, bagaimana situasi kotanya, dan
tak lupa mereka pun menceritakan bagaimana kebaikan sang Mentri Mesir kepada
mereka dan kepada tamu-tamu yang datang, serta bagaimana sang mentri mau untuk
bersusah payah ikut serta membagi-bagikan makanan pada para orang-orang yang
ada di sana.
Nabi Yakub
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memegangi jenggotnya. Gurat-gurat wajah
kesedihan masih tampak dalam wajahnya. Kedua matanya yang memutih buta sungguh
mengenaskan.... Sejak kejadian beberapa tahun silam, sejak Yusuf diajak pergi
oleh ke 10 saudaranya, dan setelah kemudian dikabarkan oleh mereka bahwa Yusuf
telah mati dimakan serigala ... Sejak saat itu hati Yakub sedih, malam harinya
ia menangis dan mengadu kepada Alloh, begitu seringnya ia menangis, dan begitu
hebatnya kesedihannya, menyebabkan kedua matanya lama kelamaan buta....
Kemudian mereka berkata
sambil agak berhati-hati takut akan datangnya kemarahan sang Ayah, "Wahai
ayah kami, kita tidak akan mendapatkan jatah pangan lagi andaikata saat kami
datang ke sana lagi, kami tidak mengajak Bunyamin. Karena itu, ijinkanlah
saudara kami itu untuk pergi bersama dengan kami, agar kita mendapatkan jatah
makanan lagi. Dan kami berjanji, akan sungguh-sungguh menjaganya".
Yakub
menjawab,"Sekarang aku tak mungkin akan mempercayakan Bunyamin kepada
kalian yang hanya akan berakibat seperti dahulu, dimana aku telah mempercayakan
Yusuf saudara kalian. AKu hanya akan mempercayakannya kepada ALloh, pemelihara
yang amat baik, lagi pula Dia Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.
Syahdan, ketika mereka
membuka barang-barang muatannya, serta merta mereka menemukan barang-barang
dagangannya yang dipulangkan kembali kepada mereka. Mereka berkata kepada
ayahnya,"Wahai ayah kami, kebaikan macam apa lagi yang akan kita cari ?
Begitu pemurahnya mentri itu. Lihat ini ! barang-barang kita dikembalikan lagi
kepada kita. Kami akan memberi makanan yang cukup kepada keluarga kita, kami
akan menjaga saudra kami dengan sebaik-baiknya, dan kami akam mendapatkan
tambahan jatah pangan seberat beban seekor unta. Jatah sebesar itu tentulah
tidak seberapa bagi Mentri Mesir yang pemurah"
Nabi Yakub yang Nabi,
mahfum... Bagaimana seseorang seperti seorang Mentri sebuah kerajaan besar
memberikan perhatian yang begitu istimewa pada 10 orang anaknya itu ? jatah
makanan ditambah ...... diminta secara khusus mengajak Bunyamin ? Sang mentri
turun langsung membagi-bagikan jatah pangan.... Sang mentri berbuat baik,
sangat baik kepada para tamunya... Siapa di jaman sekarang yang memiliki Akhlak
seperti itu ???
Dengan dada yang sedikit
berdebar agak kencang sebab bahagia, Nabi Yakub bertenang diri sebentar, dan
tahulah ia, bahwa Yusuflah sang mentri itu....
Kemudian Yakub berkata
kepada anak-anaknya yang 10,"Aku sekali-kali tidak akan melepaskan
Bunyamin ikut serta bersama kalian, sebelum kalian memberikan jaminan yang kuat
kepadaku atas nama Alloh, bahwa kalian akan membawanya kembali kepadaku seperti
semula, kecuali jika kalian mendapatkan kecelakaan. Tatkala mereka memenuhi
jaminan itu, Yakub berkata,"Alloh menjadi saksi terhadap apa yang
sama-sama kita ucapkan ini".
Kemudian Yakub berpesan,
"Hai anak-anakku, bila kalian balik ke sana, janganlah kalian masuk dari
satu pintu secara serempak, tetapi masuklah dari beberapa pintu yang berlainan
seorang demi seorang. Namun berhati-hatilah karena aku tidak dapat membela
kalian dari ketentuan hukum Tuhan. Keputusan hukum hanyalah dari Alloh semata.
KepadaNyalah aku mempercayakan diri dan kepadaNya pulalah hendaknya orang-orang
yang bertawakal mempercayakan dirinya".
Nabi Yakub menyuruh
demikian, menyuruh mereka masuk dari pintu yang berbeda, adalah agar roman muka
Yusuf saat bertemu dengan Bunyamin, tidak diketahui oleh saudara-saudara yang
lainnya. Ia menjaga agar skenario Yusuf tetap berlaku sebagai mana yang sudah direncanakannya.
Kemudian sat itu tibalah,
mereka ber 11 berangkat menuju Mesir untuk kembali meminta jatah pangan... Nabi
Yakub mengantarkan dari pintu dengan hati behagia, Yusuf akan bertemu Bunyamin,
ia tersenyum sendiri........
Bagaimanakah kelanjutannya
ketika nanti mereka bertmu dengan Yusuf di Mesir ?? Sampailah sudah rombongan
mereka di Mesir, Seperti sebelumnya, merekapun antre... dan sampelah saat
giliran mereka untuk masuk ke ruang kerja Yusuf...
Merekapun masuk sesuai
petunjuk yang diberikan oleh ayah mereka.
Tibalah giliran Bunyamin
terlebih dahulu masuk keruang kerja Yusuf. Yusuf tak dapat menahan rasa
rindunya lebih lama lagi melihat adiknya yang dicintainya ini... Yusuf turun
dari kursinya, dan ia memeluk Bunyamin sambil berkata, "Sesungguhnya aku
ini adalah saudaramu"
Bunyamin seakan tak percaya
bahwa dirinya sedang dipeluk oleh sang Mentri Mesir, lama ia
terbengong-bengong, kemudian setelah Yusuf melepaskan pelukannya, Bunyamin
memperhatikan dengan seksama wajah rupawan yang ada di depannya. Barulah ia
tahu bahwa memang Yusuflah yang ada di depan matanya, iapun ganti memeluk dan
kini tangisnya berderai... "Yusuf... yusuf... saudaraku yang kurindukan
siang dan malam..." Yusufpun tak kuasa menahan linangan air
matanya..."Bagaimana tidak, setelah semua kejadian-kejadian yang telah
dialaminya, mulai ia dijerumuskan saudara-saudaranya dalam sumur, sampai ia
bertemu dengan Zulaikha.....
"Zulaikha.....?!
dimanakah ia kini ??" tiba-tiba, ia teringat kepada Zulaikha...wanita yang
sangat mencintainya.... "Yusuf !!!" suara Bunyamin memecahkan
bayangan Yusuf terhadap Zulaikha... "Bagaimanakah ceritanya sampai semua
ini terjadi ?"
Yusuf mengangguk, dan
berkata,"Nanti, akan aku ceritakan kepadamu semuanya, sekarang aku akan
menerima saudara-saudara kita yang lainnya"
Kemudian Yusuf menerima
saudara-saudara yang orang, memberikan mereka bahan pangan yang melebihi
jatahnya. Yusuf menjalankan rencananya, ia memasukkan sebuah piala ke dalam
karung saudaranya.
Setelah dianggap selesai di
situ, rombongan saudara-saudara Yusufpun bergerak akan meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba, terdengar
teriakan lantang dari para penakar pangan yang merasa kehilangan
pialanya,"Hai kafilah !!! kalian telah mencuri sesuatu dari kami !!!
Merekapun menghentikan
langkah mendengar teriakan itu dan berbalik tanya pada orang yang
berteriak," Apakah barang kalian ada yang hilang ?"
Para penakar menjawab
tegas,"Kami kehilangan piala kerajaan. Siapa yang dapat mengembalikannya,
akan diberi gandum sebeban unta. Dan aku yang menjaminnya!"
Saudara-saudara Yusuf
menjawab,"Demi Alloh ! Kalian sendiri mengetahui bahwa kami datang bukan
untuk berbuat onar di kawasan ini, dan kami ini benar-benar tidak
mencurinya".
Para panakar berkata
lagi,"Apa hukumannya kalau kalian berdusta ?"
Mereka menjawab dengan
tegas,"Hukumannya ialah, Barangsiapa yang dikarungnya ditemukan barang
yang hilang, maka pribadinya sendirilah yang menanggung hukumannya. dia akan
menjadi budak bagi pemilik barang yang dicuri selama satu tahun. Demikianlah
syariat kami memutuskan hukuman terhadap pelaku pencurian".
Lalu, Yusufpun mulai
memeriksa karung-karung mereka, 10 saudaranya itu sebelum ia memeriksa karung
Bunyamin, adiknya. Setelah karung-karung milik 10 saudaranya diperiksa tidak
ada, barulah ia memeriksa karung milik adiknya. Kemudian ia mengeluarkan piala
kerajaan itu dari karung adiknya. Demikianlah ALloh mengilhami siasat bijaksana
kepada Yusuf.
Sebagian saudara Yusuf
berkata,"Jika Bunyamin mencuri, itu wajar, sebab saudaranya dahulu pernah
juga mencuri" Yusuf menyembunyikan perasaan tersinggunya atas ucapan ini,
dia tidak menampakkannya terhadap mereka. Hanya ia berkata dalam
hatinya,"Kalianlah sebenarnya yang berwatak jahat. Alloh Maha Mengetahui
hakekat yang kalian utarakan itu"
Yehuda, saudara Yusuf yang
cukup cerdik, melihat semua ini dan ia tahu bahwa semua ini adalah permainan
sang mentri Mesir, tetapi ia tahu, bahwa sang menteri adalah orang yang
berkuasa. Kalau ia membuka siasat ini, tidak menutup kemungkinan malah mereka
semua akan mengalami kesulitan. Ia berkata kepada Yusuf, "Wahai Paduka
Yang mUlia, dia Bunyamin saudara saya, mempunyai ayah yang sudah sangat tua.
Karena itu, ambil sajalah saya sebagai gantinya. Menurut pandangan kami, tuan
adalah orang yang bernalar baik" Yehuda mengorbankan dirinya demi agar
Bunyamin dibebaskan dan sang ayah tidak lagi sedih hati....
Tetapi Yusuf mengambil
keputusan yang tetap. Dia berkata,"Aku berlindung kepada Alloh daripada
menahan seseorang, kecuali kalau memang ditemukan barang-barang kami padanya.
Kalau kami bertindak lain dari itu, niscaya kami terbilang orang yang
zalim".
Yehuda menahan amarahnya
pada sang mentri... ia sudah hendak berteriak dengan "auman singa"
yang dimilikinya, Ya sudah lama ia tidak memakai "auman singa" ini
untuk hal-hal yang terjadi. "auman singa" ini adalah kelebihan dari
Yehuda yang diperolehnya dari beberapa doa yang diajarkan oleh Yakub, ayahnya.
Sebab ia termasuk orang yang cukup sabar..... Dampak dari "auman
singa" ini sangatlah dahsyat. Jika saja ia benar-benar jadi berteriak di
dalam ruangan itu, dapat dipastikan, seluruh orang yang ada di dalam ruangan
itu yang dikehendakinya untuk mati akan mati.
Yusuf sang mentri melihat
gelagat ini, dengan bergegas, ia mendatangi Yehuda, dan mengelus belakang
pungungnya dengan tangan kanannya. Sungguh aneh, amarah Yehuda yang tadi sudah
ada di dalam dada, tiba-tiba seolah dialiri aliran sejuk dan dingin dari tangan
Yusuf...
Ia sadar sekarang ini sedang
berhadapan dengan siapa... Dan ia tidak mau menggagalkan rencana Yusuf.... Ya
.. Ia dulu adalah salah satu dari orang yang sebenarnya tidak setuju atas
perbuatan saudara-saudaranya
pada Yusuf... dan iapun khilaf diwaktu itu.... Kini rasa penyesalan yang telah
lama dipendamnya, sekali lagi juga dipendam, demi terlaksananya rencana
Yusuf...
Kemudian iapun mohon
diri...... Bersama-sama sembilan saudaranya yang lainnya Yehuda pun mohon diri
pada Yusuf, untuk menceritakan masalah ini kepada ayah mereka... Sekilas Yusuf
melihat, sembilan saudaranya yang lain sedang diliputi emosi yang tinggi....
Ya... mereka semua telah berjanji kepada Yakub untuk menjaga keselamatan
Bunyamin, kini mereka justru harus meninggalkan Bunyamin...
Sebelum rombongan bergerak
meninggalkan kota kerajaan Mesir, Mereka berunding sejenak. Membicarakan apa
yang akan mereka lakukan... Yang sulung diantaranya berkata,"Tidakkah
kalian ingat bahwa dari kita telah diambil sumpah atas nama ALloh oleh Ayah
kita untuk menjaga Bunyamin. Lagi pula, sebelum peristiwa ini, kalian telah
menyia-nyiakan Yusuf. Karena itu, aku tidak akan meninggalkan kawasan ini
sampai ayahku memberikan ijin kembali, tau Alloh memberi keputusan lain
kepadaku. Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya".
Semua saudaranya mahfum,
bahwa saudara mereka yang sulung ini, Ruben, akan melakukan perbuatan yang
nekat demi terbebasnya Bunyamin dari tangan mentri Mesir. Dan merekapun mahfum,
kalau cuma 1000 tentara saja, takkan mampu menahan laju saudara sulung
mereka..... Begitulah, masing-masing anak-anak dari Yakub memang memliki
keistimewaan sebagai putera seorang Nabi Alloh.
Sembilan saudara Yusuf
termasuk Yehuda bergerak meninggalkan mesir dan kembali ke Kanaan, sedangkan
saudara yang sulung berjalan sendiri menuju istana Yusuf. Apapun yang terjadi,
ia akan merebut kembali Bunyamin dari tangan sang mentri..... Putra Sulung Yakub
dengan langkah tegap berjalan menuju kota kerajaan Mesir.. Ia sudah siap untuk
mati, siapapun yang menghalanginya akan diterabasnya.... Tak peduli 10 orang,
100 orang maupun 1000 orang kalau perlu, demi menyelamatkan Bunyamin, ia akan
melakukan apapun juga.
Bagaimana jika sang mentri
turun tangan ?
"Ah.... tak peduli sang
mentripun, jika menghalangi akan kubabat juga", begitu gumam si sulung...
Baru mau masuk gerbang kota,
di depan gerbang kota berdiri seseorang yang semula tidak menarik perhatiannya.
Sebab pakaiannya yang biasa laiknya rakyat jelata... Hanya saja, setelah agak
dekat, barulah ia kaget melihat bahwa si orang tersebut adalah sang mentri
sendiri, Sang mentri mesir yang memang sudah tahu gelagat, dan sudah tahu apa
yang bakalan terjadi ini, ternyata telah mencegat si sulung di gerbang kota.
Belum sempat si sulung berbicara apa-apa, tangan sang mentri sudah mengusap
punggungnya dan sambil tersenyum ia mempersilakan kepada si sulung untuk mau
istirahat di kerajaannya... "Silakan tuan istirahat di kerajan Mesir,
kerajaan ini selalu terbuka bagi keluarga tuan", kata Yusuf... Entah hal
aneh apa yang sebenarnya terjadi, emosi si sulung yang tadi sudah ada di dalam
dada, tiba-tiba seolah diguyur air dingin, sejuk...dingin..segar... dan hilang
sama sekali.. keinginannya untuk mengobrak-abrik mesir sirna sudah.... Iapun
kini sadar siapa sebenarnya sang mentri mesir itu. Tak perlu menjawab, ia hanya
mengikuti langkah kaki sang mentri msuk ke dalam kota kerajaan dan beristirahat
di dalam kerajaan Mesir...
Sementara itu,
saudara-saudara Yusuf yang lain, yang kembali ke Kanaa, telah bertemu dengan
ayahnya, Yakub. Salah satunya berkata,"Wahai ayah kami, anakmu Bunyamin
telah mencuri. Dan itu kami saksikan sendiri, Bunyamin telah mencuri piala
kerajaan Mesir" Yang lain menimpali," Kalau ayah kurang percaya,
tanyakanlah kepada penduduk negeri Mesir dimana kami telah mengambil pangan dan
tanyakanlah kepada kafilah yang sama-sama berangkat bersama kami.Percayalah
kami sungguh-sungguh dan bersikap jujur"
Yakub menjawab,"Bohong
! itu hanya pengelabuan atas perbuata kalian"
Kemudian setelah Yakub
mereda, ia berkata,"Semoga ALloh memulangkan mereka semuanya kepadaku.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana".
Kemudian Yakub menyingkir
dari mereka dan berkata,"Aduhai alangkah susahnya aku karena kehilangan
Yusuf" Tampak kedua mata Yakub yang putih buta, mengidap dukacita.
Anak-anak Yakub yang telah
merasa bersalah berkata,"Demi Alloh, engkau senantiasa mengenang Yusuf
sampai engkau terkena penyakit dan mungkin bisa mati"
Yakub menjawab,"Aku
akan mengadukan kesusahan dan kesedihanku hanya kepada ALloh, bukan kepada
kalian. Dan dari ALloh aku mengetahui sesuatu yang tidak kalian ketahui"
Anak-anak Yakub kini semakin
menyesal, bukan hanya merasa bersalah, melainkan penyesalan yang sangat
sekarang terjadi dalam dada mereka masing-masing.
Pertama sebab pendaman rasa
bersalah yang sudah berpuluh tahun menumpuk sejak perbuatan mereka ke Yusuf
hanya sebab kecemburuan mereka kepadanya, ya..sebab hanya kecemburuan lebih
diperhatikannya Yusuf oleh orang tuanya dari pada mereka, dan yang sekarang,
mereka sungguh-sungguh menyesalkan kejadian Bunyamin yang sudah diserahkan
tanggung jawabnya kepada mereka.
Beberapa orang diantara
saudara Yusuf tak dapat menahan tangisnya, sebagian lagi menahannya di dada.
Mata mereka memerah dan pukulan penyesalan begitu hebat melanda hati mereka.
"Seandainya
saja...seandainya saja ALloh memberikan kesempatan yang kedua kepada kami,
tentulah kami tidak akan pernah berlaku seperti ini lagi....kami akan minta
maaf ke Yusuf, kami akan minta maaf ke Bunyamin, dan sekarang kami minta maaf
kepadamu ya Bapa Yakub"....desah mereka disela tangis dan penyesalan....
Yakub yang hatinya memang
dipenuhi Kasih dan Sayang, telah melihat dengan sebenarnya penyesalan dan rasa
sedih mereka. Dan ia pun merasakan bahwa sebagian dari mereka mulai jatuh pada
titik mendekati keputus asaan dari rohmat Tuhannya. Keputus asaan sebab ketidak
berdayaannya menghadapi masalah yang berat ini. Ayahnya sudah tua, buta, Yusuf
hilang dan kini ditambah persoalan Bunyamin ditangkap oleh penguasa Mesir.
Kemudian Yakub dari kejauhan
berkata dengan lembut,"Hai anak-anakku, pergilah sekarang kalian kembali
ke Mesir dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya Bunyamin. Lagi pula
kalian jangan berputus asa dari rohmat ALloh. Tidak ada yang berputus asa dari
rohmat ALloh kecuali orang-orang yang kafir"
Saudara-saudara Yusuf kini
bangkit lagi, secercah harapan disandangnya lagi, atas perintah Yakub Bapak
mereka, kini mereka berangkat ke Mesir dengan sedikit harapan... Ya mereka
tidak akan berputus asa.... Semoga kesempatan kedua diberikan TUhan kepada
mereka untuk berbuat baik...
Merekapun melupakan kesal
dan capeknya, lelah dan sulitnya perjalanan menuju Mesir, setelah barang-barang
yang dibawa dari Mesir diturunkan di Kanaan, tanpa beristirahat lagi, mereka
kembali melakukan perjalanan ke Mesir ......
Singkat cerita, mereka
sampailah ke Mesir... Agak sedikit herang mereka, mengapakah tidak tampak
tanda-tanda adanya kakak sulung mereka ? Mengapakah tidak rame dibicarakan
(seandainya ada) pertempuran yang seru antara kakak mereka dengan para tentara
?
Sampailah mereka masuk ke
dalam ruangan sang Mentri, sebagaimana biasanya, setelah antre seolah meminta
jatah pangan.
Sampai dihadapan sang
Mentri, dengan masih ada sedikit emosi, mereka memandang sang mentri dengan
Tajam dan berkata, "Wahai Paduka Yang Mulia. Kami dan keluarga kami telah
ditimpa malapetaka kelaparan...." terdiam sejenak menahan emosi pada sang
Mentri, kemudian mereka melanjutkan, "...sedang kami hanya membawa barang
dagangan yang berharga murah. Namun, beri jualah kami jatah pangan secukupnya.
Kelebihannya, `bersedekahlah` kepada kami... Yang dimaksud `bersedekah` adalah
agar supaya Bunyamin dilepaskan..... Kemudian mereka melanjutkan,
"Sesungguhnya Alloh memberikan balasan berganda terhadap orang-orang yang
`bersedekah`". kata mereka sambil menahan emosi di dada.
Yusuf tersenyum kemudian
bertanya, "Apakah kalian ingat apa yang telah kalian perbuat beberapa
tahun yang lalu kepada saudara kalian yang bernama Yusuf ? dan belum lama ini
juga terhadap saudaranya Bunyamin ? Pada waktu itu kalian tidak menyadari apa
akibatnya"
Mereka terperanjat dan
sangat kaget... dari mana sang mentri ini tahu akan peristiwa bertahun-rahun
silam ? padahal sudah lebih dari 14 tahun...? apakah sang mentri adalah orang
yang waskito, sakti mandraguno, tahu sebelum diberitahu, "ngerti
sakdurunge winarah" ???
ataukah....
ataukah....
jangan-jangan.....
Kemudian salah seorang dari
mereka bertanya, "Apakah engkau ini Yusuf ?"
"Ya sayalah Yusuf dan
yang ini adalah saudaraku Bunyamin", kata Yusuf sambil menggandeng masuk
Bunyamin di depan mereka. Yusuf melanjutkan berkata, "Alloh telah
memberikan karunia kepada kami. Sebenarnya siapa yang bertakwa dan tabah tentu
Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebajikan"
Mereka, saudara-saudara
Yusuf berkata, "Demi Alloh, sungguh-sungguuh Alloh telah memberikan
karunia kepadamu kelebihan-kelebihan atas kami. Dan kami benar-benar bersalah
atas kejadian yang lalu-lalu. Ampunilah kami", Beberapa saudara Yusuf tak
kuat menahan perasaan harunya... air mengalir menetes membasahi pipi... Rasa
syukur atas pertemuan ini... Rasa Syukur bahwa Bunyamin tak kurang suatu apa...
dan Rasa penyesalan yang sangat atas apa yang dulu telah dilakukannya pada
Yusuf...
Sirnalah semua emosi yang
membara.....
Sirnalah semua dendam......
Sirnalah semua pendaman masa
lalu pada diri saudara-saudara Yusuf .... Bagi Yusuf tak ada perbedaan ..Sebab
di dalam dada Yusuf tak pernah ada dendam... Di dalam jiwa Yusuf tak pernah ada
benci kepada saudara-saudaranya... Tetapi kini mengalir perasaan bahagia ..
Sebab ALloh telah memenuhi janjiNya untuk mempertemukan Yusuf kembali dengan
keluarganya...
Yusuf kemudian berkata,
"Mulai hari ini, kalian bebas dari segala macam tuntutan ! Semoga Alloh
mengampuni kalian, Dia Maha Penyayang diantara semua yang Penyayang."
Kemudian ia melanjutkan,
"Sekarang, baliklah kalian dengan membawa jubahku ini. Begitu kalian
bertemu dengan ayah, tutupkanlah jubahku ini pada wajah beliau. Insya alloh,
mata beliau akan dapat melihat kembali. Sesudah itu, bawalah seluruh keluarga
kemari".
Pada saat anak-anak Yakub
itu melewati perbatasan wilayah Mesir, ayah mereka yang tinggal di Kanaan
berkata kepada cucu-cucunya,"AKu merasa mencium bau Yusuf. Kalau kalian
tidak menganggapku orang tua goblok, tentu kalian membenarkan perkataanku"
Mereka berkata,"Demi
Alloh, rupanya engkau masih saja berlamunan kosong seperti dahulu"
Rombonga anak-anak Yakub pun
sampailah di Kanaan. Mereka menceritakan semua kejadian kepada ayahnya dan
jubah Yusufpun ditutupkan pada wajah Yakub. Biidzinillah, Yakub dapat melihat
kembali. Lalu ia berkata,"Bukankah telah kukatakan kepada kalian, bahwa
aku mengetahui dari Alloh apa yang tidak kalian ketahui"
Mereka yang ada di situ
mengangguk-angguk mengiyakan, kemudian mereka berkata, "Wahai ayah kami,
mohonkanlah ampunan untuk kami berkenaan dengan dosa-dosa kami ini. Kami
benar-benar orang-orang yang bersalah"
Yakub dengan bijaksana
menjawab, "Nanti akan kumohonkan ampunan Tuhanku untuk kalian. Dialah Yang
Maha Pengampun dan Penyayang"
Setelah melakukan persiapan,
maka berangkatlah rombongan saudara-saudara Yusuf dan Yakub ayahnya serta
ibunya...
Yusuf harap-harap cemas.....
kerinduan akan pertemuan
dengan seluruh keluarganya...
kerinduan kepada ayahnya...
kerinduan kepada
ibunya......
dan kerinduan berkumpulnya
kembali satu keluarga....
Yang dinanti-nantikan
akhirnya datang jua...
Tatkala mereka memasuki
istana, Yusufpun bergegas menyongsong dan merangkul ayah bundanya seraya
berkata, "Selamat datang ke negri Mesir ! Semoga selamat sejahtera dari
Alloh atasmu sekalian"
Yusuf menuntun kedua orang
tuanya yang sudah tua ke atas singgasana, lalu mereka semuanya meniarap sujud
kepada Yusuf. Setelah itu Yusuf berkata, "Wahai orang tuaku, inilah
rahasia mimpiku yang dahulu, dimana Tuhanku telah menjadikannya peristiwa
nyata. Sungguh Dia telah mengaruniakan kebaikan padaku ketika aku
dikeluarkannya dari Penjara. dan ketika Dia mendatangkan kalian semua dari
pedalaman, sesudah syetan merusak hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku
yang lainnya. Sungguh-sungguh Tuhan Maha Seksama terhadap barang apa yang
dikehendakiNya. Diapun sungguh-sungguh Maha Mengetahui dan Bijaksana"
Demikianlah keluarga telah
berkumpul kembali, kebahagiaan Yusuf sudah pulih kembali...
Cerita terus berjalan
Yusuf sang mentri...
Yusuf sang Wazir Agung
dengan kekuasaan penuh,
Yang telah menyelamatkan
Mesir dari bencana kelaparan yang dahsyat... Setelah sebelumnya ia adalah
seorang narapidana penjara kerajaan.... yang sebelumnya ia adalah seorang budak
belian... yang sebelumnya ia adalah yang terbuang dan yang dikhianati...
"Karena demikianlah
jalan langit dalam kebahagiaan dan dalam kekecewaan... Perlahan dalam cinta...
cepat dalam kebencian...
mengangkat seseorang
setinggi matahari yang memuncak, membaringkan yang lainnya terkapar dari
bayangan....
Berbahagialah orang yang
kebijaksanaan mengilhaminya, untuk menarik pelajaran dari pasang surut ini, dan
yang tidak menyombongkan diri dalam kemakmuran dan putus asa dalam
kesukaran"
Begitulah guruku Hakim
Nuruddin `Abdurrahman Jami berkata........
Dimanakah Zulaikha kini ?
ketika kesedihan semakin
mendalam merasuk ke dalam dada.... dan ketika ia pergi meninggalkan balairung
kerajaan untuk menahan gelombang tangis yang terus menderanya....
Hati yang menderita karena
cinta tak dapat disembuhkan dengan selain perjumpaan dengan kekasihnya... uang
tak dapat menggantikannya, harta benda tak dapat merubah kesedihannya, bagai
mendung yang menggelayut di atas langit, gelap pekat sebab penuh dengan air
hujan yang menanti untuk jatuh.. bagai bendungan tipis yang dilanda banjir,
menanti saat untuk jebolnya pertahanan kesedihan, begitulah derita seorang
pencinta sejati, yang kesakitan baginya adalah kenikmatan yang tidak boleh
hilang, yang penderitaan baginya adalah anugrah yang tak terhingga.
Bak panasnya pasir di gurun
sahara, ketika bertemu dengan setetes air yang menyegarkan, begitulah gambaran
pecinta yang bertemu kekasihnya......
Sejak sang wazir sudah
dijemput ajal, tak ada lagi kini sedikit bayangan selain bayangan Yusuf dalam
hati Zulaikha, bibirnya tak pernah putus-putus menyebut-nyebut nama
kekasihnya.. "Yusuf..yusuf..yusuf..yusuf".
Sambil meneruskan
perjalanan, akhirnya ia menemukan reruntuhan rumah batu disudut kota... Ia
tinggal disitu, tapi bagaimana bisa tidur ?, jika kesedihan terus menggerogoti
perasaannya ?, bagaimana ia akan enak makan ?, bila perasaan rindunya
seringkali tak tertahankan ?
Ia teringat ketika
kebahagiaan telah direnggutnya sendiri, Perjumpaan dengan kekasihnya yang dulu
masih dapat terpenuhi sehari seratus kali, dapatlah ia memandang wajah yang
dicintainya, tetapi apa yang telah dilakukannya ? menjebloskan kekasih ke dalam
penjara ! meski kesempatan untuk memandang wajah kekasihnya masihlah ada...
setiap malam diselimuti oleh pekatnya malam, ia mengendap-endap menuju pintu
penjara... untuk kemudian dari kejauhan memandang wajah Yusuf sang mentari,,,
Zulaikha merintih,
"Tak ada lagi yang
kumiliki kini....tak ada lagi.....
tak ada tatapan wajahmu lagi
wahai kekasih....
tak ada lagi pandangan marah
atau sayangmu wahai kekasih....
jika hartaku masih ada, akan
aku berikan kepada siapapun yang membawa kabar Namamu... jika jiwaku masih
tersisa, akan aku berikan untuk perjumpaan denganmu, meski tiap pertemuan
haruslah dibayar dengan jiwa... hanya tinggal bayangmu saja yang kumiliki dalam
hatiku, bila bayangmu talah berlalu, akankah aku bertahan hidup wahai
matahariku ?? dan hanya tinggal kemerdekaanku tuk selalu dapat menyebut namamu
saja... jika lidahku sudah kelu tuk menyebutmu, akankah aku dapat menahan
nafasku dari tubuhku ??
wahai jiwaku Yusuf....
masih dapatkah aku menahan
kerinduanku ini di hari-hari nanti ?
tubuhku yang kini hanya
tinggal tubuh seorang pertapa...
rambutku kini sudah memutih
seputih baghal di jalananan...
Yusuf..yusuf...."
Rintihannya menerobos
dinding-dinding batu rumah tua itu, naik ke atas awan, dan merobek selubung
mendung yang gelap pekat, terus naik sampai keharibaan ilahi....
burung gagak menelungkupkan
kepalanya menjaga agar tak mendengar rintihan Zulaikha...
Bertahun-tahun sudah
kesedihan itu melanda...bertahun-tahun ia hidup dalam jiwa yang menderita
kerinduan pada kekasihnya. Tubunya yang dulu molek kini tinggal kulit dan
tulang saja, wajahnya yang cantik kini tak ubahnya seperti nenek tua.. kerut-kerut
di pipi dan dibawah mata semakin meyakinkan bahwa ia adalah seorang yang
membawa beban cinta, punggungnya yang tegak kini menunduk, beban cinta membuat
tubuhnya bungkuk, matanya menatap tanah, dayanya terserap ke bawah......
ia sering berdiri didekat
sudut jalan, dimana Yusuf kata kabar sang burung sering lewat di jalan itu..
tapi sampai saat ini, tak ada sedikitpun bau Yusuf yang dibawa sang angin....
Sampai satu ketika.....
Satu ketika terdengarlah
hiruk pikuk rombongan kerajaan Mesir....
Zulaikha pun mendengar akan
huru-hara ini... Rombongan kerajaan mesir lewat di jalan depan rumahnya....
Tapi tumpukan massa yang ikut menyaksikan telah menutupi pandangan Zulaikha
dari rombongan tersebut....
Zulaikha keluar dari
gubuknya sambil berharap dapat bertemu dengan kekasih hatinya.. ia duduk di
tepi jalan sambil bergumam.. "Yusuf..yusuf..yusuf...." kadang
tiba-tiba ia menangis jika teringat nasibnya... kadang-kadang ia tertawa jika
ingat dapat bertemu dengan pujaan hatinya...
Beberapa orang anak ingin
menggodanya, "Hei lihat..Yusuf datang-yusuf datang.... betapa tampannya
yusuf... ia naik kuda putih di atas pelana emas..."
Zulaikha menjawab,
"Tidak anak nakal... tak ada gunanya kamu semua menipu aku... tak ada bau
Yusuf yang masuk ke dalam rongga hidungku... tak ada getaran hati yang
mengatakan kekasihku ada di antara rombongan ini tak ada lintasan bayangan
masuk ke dalam pikiranku.. Yusuf tak ada di dalam rombongan ini"
Sambil membalikkan tubuhnya,
Zulaikha terbongkok-bongkok berjalan menyeret kakinya menuju gubuk buluh bambu
dan reruntuhan batu sambil mengeluh panjang..
"Yusufff...yusuuufff....
derita seorang pecinta melebihi siksa di dasar neraka... bak luka di atas luka
yang ditaburi garam.... bak kulit yang menganga terkena asam pekat.....
yussuuufff.....
Ketika pertama kali bertemu
wajahmu di dalam mimpi-mimpiku... seolah kau tuangkan ramuan ke dalam belanga
hatiku.... kuaduk-aduk sendiri dan kucampur dengan bumbu-bumbu harapan dan
keinginan, meski sempat kucampur dengan racun nafsu... kuberi tambahan adonan
ketaatan dan kesetiaan kepadamu.. meski sempat kucampur racun fitnah yang
pahit.. tapi tetap adonan itu selalu kubakar dengan nyala api cinta yang
membara...
Yusuf...yusuf..yusuf....."
begitulah Zulaikha di dalam
derita cinta yang berkepanjangan.....
Dilain hari, ketika satu
waktu rombongan kerajaan datang... anak-anak kecil kembali menggoda Zulaikha...
"Tak ada Yusuf dalam rombongan iitu... tak ada.....hanya prajurit-prajurit
saja yang lewat....."
Zulaikha pun menjawab dengan
dada bergetar dan bibir gemetar... "Jangan coba mengelabui saya dan
menyembunyikan si sahabat dari saya ! Bagaimana mungkin seseorang dapat
menutupi seorang kekasih dari orang yang mencintainya ? Getar dalam dada
mengatakan adanya dia di dalam rombongan... seluruh tubuhku mengatakan adanya
Yusuf di dalam rombongan.. meski aku tidak dapat melihatnya......" Dan
kalau Yusuf sudah ada di depan rumah Zulaikha, meski tertutup oleh
berpuluh-puluh rakyat yang berdiri di sepanjang jalan, Zulaikha mendadak
pingsan... tak kuat menahan pertemuan meski hanya melihat wajah Yusuf dari
kejauhan...
Dan kalau rombongan sudah
lewat, ia tersadar kembali dan berkata, "Seluruh hidupku sudah kukorbankan
untuk selalu ada di dalam penderitaan cinta...seluruh kesakitan perpisahan
sudah kurasakan dengan seluruh seluk beluknya ..... Belum cukupkah aku
menderita karena perpisahan ini ??? Berapa lama lagi aku harus terpisah dari
sang kekasih ??? Aku lebih suka berpisah dari hidupku dari pada perpisahan
dengan sang kekasih..."
Tak ada istirahat bagi sang
pecinta... tak ada... siang di habiskan dengan bayangan pada kekasihnya.. dan
malam hari dihabiskan dengan mengingat wajah kekasihnya..... Tapi kini sentuhan
aroma mawar tak lagi membuat dirinya puas.... dia ingin menyentuh..... dan
ingin memetik mawar itu dari dalam kebunnya.... dan dia ingin mereguk wanginya
mawar dengan durinya..
Ia bersujud di depan berhala
yang selama ini disembahnya... Dan ia berdoa,"Engkau yang selama ini
kumintai pertolongan demi pertemuanku dengan Yusuf..... tapi tak ada sedikitpun
tanda-tanda engkau dapat memenuhi harapanku...... Untuk sekali ini saja,
perkenankanlah aku untuk bertemu dengan kekasihku wahai Engkau...."
Ketika keesokan harinya ia
berdiri di pinggir jalan, menantikan datangnya rombongan kerajaan..... seperti
laiknya pengemis yang menanti kedatangan sang raja...
Tiba-tiba.. deru debu dan
ringkikan kuda yang lewat menyeruak di antara orang banyak..."Minggir
!!"
Rombongan kerajaan telah
membuatnya terseingkir dari pertemuannya dengan Yusuf..... Tak ada seorangpun
yang memperhatikan Zulaikha....
Dengan kemarahan dan menahan
derita perpisahan ini, Dengan kehancuran harapannya.. Dan di dalam sedu sedan
... ia menyeret kakinya masuk ke dalam gubuknya...
Dan seperti Ibrohim, ia
mencampakkan dan merobohkan batu berhalanya, "Batu celaka, engkau telah menghilangkan
seluruh harta bendaku.. dan engkau pula yang telah mengekalkan perpisahanku
dengan sang kekasih.. tak ada kemanfaatan pada dirimu..tak ada .... Meski
bertahun-tahun aku membungkuk dan bersujud kepadamu... engkau hanyalah batu
biasa.... Saksikanlah, bahwa aku tidak lagi percaya kepadamu..." Sambil
berkata begitu, Zulaikha merobohkan dan menghancurkan batu itu menjadi
berpuluh-puluh potong.....
Seolah cahaya mentari yang
merasuk ke dalam diri.. Seolah cahaya kebenaran menyusup ke dalam hati...
Zulaikha kini memohon dengan
kesungguhan hatinya... memohon ampun kepada Tuhannya Yusuf... "Wahai Cinta
!... Engkaulah yang berkuasa diantara berhala-berhala... Engkaulah yang
berkuasa di antara pembuat berhala-berhala, kalau tak ada secercah keagunganMu
yang ada di dalam berhala, tentulah tak akan ada yang mau untuk menyembah
berhala-berhala itu... Berapa banyak mereka yang menyembah berhala dan berpikir
telah menyembahMu ??? Wahai Tuhan... saya telah berbuat lalim dengan melalui
perantara berhala-berhala ini,
Kasihanilah aku wanita yang
tua, bongok dan menderita karena cinta ini..
Sekarang setelah Engkau
membebaskan aku dari badai kesesatan ini, aku memohon kepadaMu, untuk
mengembalikan pemberianMu yang telah Engkau ambil dariku... Ijinkanlah aku
melihat Yusuf walau sekejap mata..."
Zulaikha terus memohon
dengan seluruh perasaan dan kerendahan dirinya, "Duh Yang memiliki hidup
sesungguhnya, ampunilah aku, dan aku berserah diri kepadaMu"
"Ya Tuhan Yusuf dan
Tuhan semesta Alam rindu dalam diriku yang menggelora adalah dariMu Jua, hati
terasa dikoyak-koyak ketika malam tiba, wajah Yusuf yang terbayang tak dapat
hilang, Ya Tuhan.... Sudah sekian tahun hatiku gelisah resah dan selalu sakit,
seolah luka lama yang disayat luka baru dan disayat luka baru lagi., Aku begitu
merindukan Yusuf..Yusuf..Yusuf...
Dan jika siang tiba,
matahari bersinar terang, tapi apa artinya bagi mataku yang telah buta ?
Yang ada hanya bayangan
Yusuf . Ya Tuhannya Yusuf, Engkau yang telah memasukkan benih cintaku pada
Yusuf, dan Engkau pula yang telah menyemai kerinduanku pada Yusuf,
pertemukanlah aku dengannya, atau cabutlah akar cintaku padanya, agar derita
yang hamba tanggung berkurang .
Zulaikha menangis ,menangis
sampai kering airmatanya... Malaikat mendengar do'a itu tak kuat menahan
terlalu lama, mereka melaporkannya,
"Ya Alloh seru sekalian
Alam. Zulaikha memohon uluran tanganMu, ia meratap meminta Kasih dan
sayangMu"
"Wahai malaikatKu Aku
ketahui dan kiranya sekaranglah saat ia lepas dari derita kerinduan dan
cintanya pada Yusuf"
Alloh menghembuskan Rohman
Rohimnya ke dada Yusuf... Merasuk dan masuk menembus jantung qolbi... dari
qolbi sanubari...merasuk masuk ke dalam qolbi maknawi... dan semakin merasuk ke
dalam qolbi sirri... kemudian dari qolbi sirri.. hembusan rohman rohim itu
keluar menembus qolbi maknawi... dan tampak pada qolbi sanubari.... Yusuf sudah
digerakkan oleh hatinya ...
Yusuf yang sedang menunggang
kuda putihnya, tiba-tiba menyeruak kerumunan masa dan melangkahkah kaki-kaki
kudanya menghampiri tempat Zulaikha berada.. Yusuf turun dari kudanya dari
berjalan menuju Zulaikha..
Zulaikha merasakan kehadiran
sang kekasih, ia tak kuat menahan beban rindu... setelah sempat beberapa kali
pingsan, akhirnya ia tersadar kembali dan melihat kehadiran sang matahari
didepannya kini..
"Siapakah engkau
?" tanya Yusuf yang hampir-hampir tidak mengenali Zulaikha lagi...
"Yusuf.....Yusuf" jawab Zulaikha...
"Siapakah engkau
?" tanya Yusuf lagi... Sekali lagi Zulaikha menjawab, "
..Yusuf..yusuf..."
Yusuf bertanya untuk yang
ketiga kalinya. "Siapakah engkau wahai wanita ?"
Zulaikha menjawab, "Aku
tak tahu siapakah aku... Sejak aku mengenalmu dalam mimpiku, yang kuingat hanya
satu nama saja.. Yusuf..Yusuf.... Ya .. AKU Yusuf"
Tiba-tiba Zulaikha berteriak
keras dan kemudian menangis sambil bergumam lirih..
"Yusuf..yusuf..yusuf..."
Yakinlah Yusuf kini bahwa
wanita yang dihadapannya ini adalah Zulaikha..
Tapi..kemanakah kecantikan
Zulaikha yang dulu ??
kemanakah wajah ayu yang
menggetarkan hati para pangeran dulu ??
Kemanakah tubuh indah
Zulaikha yang jadi impian putra-putra raja ??
Kemanakah kakayaan yang
selalu berdiri disekelilingnya ??
Dan.....
Kemanakah kesadaran Zulaikah
akan dirinya sendiri dan lingkungannya ??
Alloh mengajarkan pada Yusuf
apa-apa yang ia belum mengetahuinya, dan tahulah ia mengapakah Zulaikha sampai
seperti ini kondisinya...
Iba hati dan belas kasih
Yusuf muncul, dituntunnya ZUlaikha dan ia memerintahkan para pengawal untuk
mengangkutnya dalam tandu ....
Bergeraklah rombongan menuju
istana Mesir......
Ketika Tuhan telah
mempertemukan hati orang-orang mukmin, kekuatan apa lagikah yang dapat
memisahkan keduanya ???
Ketika Tuhan telah
menyatukan hati orang-orang mukmin, daya apalagikah yang dapat menghancurkan
mereka ??
Meski harta tujuh bumi ini
kau korbankan...
Meski harta tujuh langit kau
tumpahkan...
untuk sekedar memisahkan
hubungan itu...
sungguh ! tak akan hubungan
yang dijalin oleh Alloh akan putus....
Dalam keadaan yang belum
sepenuhnya sadar...
Dan dalam keadaan
majnun-nya...
Zulaikha terangguk-angguk di
atas pelana kuda...
ia tak tahu sedang menuju
kemanakah arah kuda ini..
ia juga tak tahu sedang
apakah dirinya di sini...
yang ia tahu bahwa kini ia
dekat dengan kekasihnya...
sangat dekat dengan
kekasihnya...
Dan ia semakin memperkencang
bisikan dan sebutan nama Yusuf...
"Yusuf...yusuf...yusuf...yusuf...yusuf......."
Bagaimana tidak takjub ia
pada Yusuf jika percikan keindahan sang Kuasa ada bersama Yusuf ???
Iring-iringan Rombongan
Yusuf telah sampai ke Istana, Yusuf turun dari kudanya dan membisikkan beberapa
perintah kepada para pengawalnya...
Zulaikha dituntun turun dari
tandu yang membawanya, kemudian ia dibawa masuk untuk dibersihkan para
dayang-dayang dan diberi pakaian selayaknya seorang pembesar sebagaimana
Zulaikha yang dulu......
Malam telah larut ketika
Yusuf tertunduk dalam ibadahnya...
Selesai ia sujud dan
kemudian mengucapkan salam, Ia memohon kepada Tuhan...
"Ya Alloh yang jiwaku
ada dalam dirimu....
Segala puja dan puji hanya
layak bagimu...
Keagungan hanya milikMu...
Keindahan hanya berasal
dariMu....
Ya Alloh yang kebesaranMu
tak ada yang menandingi...
Ya Alloh yang kekuasaanMu
tak ada yang menyamai..
Ya Alloh yang Maha Berdiri
sendiri....
Yang Maha Dekat.....Yang
Maha Mengabulkan....
Yang Maha Dekat....Yang Maha
Mengabulkan...
Yang Maha Dekat...Yang Maha
Mengabulkan....
Ya Qoriibu .... Ya
Mujibu......
Engkau yang telah meneteskan
iba di dalam hatiku... dan Engkau pula yang telah meneteskan cinta di dalam
hatiku... Seandainya Engkau berkenan... Tentulah bukan suatu yang sulit merubah
sakitnya Zulaikha menjadi sembuhnya... Seandainya Engkau berkehendak...
Tentulah bukan sesuatu yang sulit merubah Zulaikha yang sekarang, menjadi
Zulaikha yang cantik rupawan seperti sedia kala... Ya Alloh... Engkau yang
menghidupkan dan Engkau pula yang mematikan makhluk... Sungguh bagiMu tidak ada
yang sulit jika Engkau berkeinginan... dan... Ya Alloh... hanya kepadamulah
hambaMu berdoa... dan hanya kepadamulah hambaMu memohon pertolongan Tetapkanlah
Dzikir dan Syukur di dalam diri Zulaikha... Dan berilah anugrah untuk bisa
dekat kepadaMu...
Yaa Haqqu...Yaa Haqqu...
Yaa Jamal...Yaa Jamal..Yaa
Jamal"
Adakah yang tidak dikabulkan
oleh Alloh jika seorang hambanya berdoa ???
Jangankan Nabiyulloh seperti
Yusuf... Seorang hamba biasanya saja.... jika ia berdoa pastilah akan
dikabulkan oleh Alloh....
Bukankah Alloh sendiri
berfirman...
"Wa Idz qola robbukum
Ud `Uni astajib lakum" ???
"Dan wahai Ingatlah,
Tuhanmu berfirman,"Berdoalah kamu kepadaKu, akan aku kabulkan"
Meski ada yang dikabulkannya
dalam jangka waktu cepat, ada yang dikabulkannya dalam jangka waktu menengah...
dan meski ada yang dikabulkannya dalam jangka waktu yang lama.. Tapi semuanya
dikabulkan olehNya... Itu adalah janjiNya sendiri !!!
Tapi begitu kita memiliki
prasangkan,"wah.. doaku tidak dikabulkan oleh Alloh", maka gugurlah
mustajabahnya doa itu... Yang berlaku adalah... diri kita sendirilah yang
menggugurkan doa kita sendiri... Gugurlah doa itu...
Demikianlah... ketika Yusuf
di dalam kesendiriannya berdoa, Tidak ada keraguan pada Alloh sedikitpun....
yang ada hanya yaqin... Ya.... Alloh telah mengabulkan doanya....
Pada saat itu pula kehendak
Alloh berbicara.... hembusan kesadaran merasuk ke dalam hati jantung
Zulaikha... dan kemudian merambat pelan melalui jaringan-jaringan darah yang
mengalir..... membersihkan
kotoran-kotoran fisik yang ada di dalamnya.... dan kemudian mengalir
membersihkan semua penyakit... sampai ke otaknya... dan mengalir keseluruh
tubuh, memancarkan kesembuhan yang mempesona..... Zulaikha SADAR....!!! Tapi
......nama Yusuf tetap ada di dalam
bibirnya....."Yusuf..yusuf..yusuf..."
Ia mulai melihat-lihat
kesekelilingnya.....
Ia bangkit dari atas ranjang
empuk yang telah disediakan....
berjalan tertatih-tatih
menuju jendela kamar yang terbuka.....
Zulaikha melongokkan
kepalanya....
terlihat jelas keindahan
sang Pencipta melalui CiptaanNya....
Bintang yang gemerlap riang
di atas permadani awan yang gelap pekat...
Sinar bulan purnama yang
penuh bercahaya.....
Semilir angin yang lembut
menyegarkan.....
Dan dinginnya malam yang
menyejukkan.....
menghembus ke tubuh
Zulaikha.......
Zulaikha menutup rapat
matanya....
merasakan seluruh suasana
ini.....
Sungguh tentram dalam
dirinya.......
Seolah bangun dari tidurnya
yang berkepanjangan....
Ia tidak sadar ketika
dirinya memandang di cermin dalam kamar....
yang tampak bukan lagi wajah
tua keriput beruban putih dan bongkok....
Melainkan Zulaikha yang
dulu....yang cantik...tidak !...lebih cantik lagi.......
dengan tubuhnya yang
indah....tidak! ...lebih indah lagi......
dengan pesonanya yang
menggetarkan...tidak !... lebih dari pada itu.....
Tapi ...bersama dengan
itu...beberapa hijab dalam hatinya dibuka oleh Alloh ta`ala
.....Ya.....beberapa telah terbuka....
Lidah Zulaikha kelu....
Hati Zulaikha terkuak....
dan tubuhnya sempat
kaku.....
ketika............
Tampak semuanya bahwa
seluruh kejadian-kejadian yang menimpanya, seluruh kejadian-kejadian yang
terjadi pada diri manusia semuanya, adalah akibat Pena yang digerakkan oleh
Pemiliknya....
Semuanya.....
tak ada yang tersisa, Sang
Pemilik Pena meliputi langit dan bumi... menggerakkan Pena dengan Rohman
RohimNya....
Dan kini terlihat, seluruh
keindahan yang ada di dunia ini, dan seluruh keindahan yang ada diakherat...
hanyalah percikan dari Cahaya Jamal dan Jalal-Nya... Semua Keindahan yang
selama ini telah mempesona Zulaikha, hanyalah Pantulan dari Keindahan Ilahi....
Harta dunia yang berkilau,
Tahta kerajaan yang menggiurkan, dan Yusuf yang senantiasa disebutnya, hanyalah
pantulan dari keindahan Wajah-Nya.....
Zulaikha berkata lirih,
"Ya Tuhanku dan Tuhan Yusuf serta Tuhan semua manusia...... Ketika letupan
api telah menyulut uap bahan bakar, tak ada seorangpun yang bisa
menahannya..... dan ketika api telah berkobar dalam dadaku, seolah kuncup mawar
yang mekar dan semakin mekar.... Semua dilalap oleh api cinta yang membara....
Saat itu tampak WajahMu
dimana saja Engkau berada....
Melalui Yusuf aku telah
mengenalMu...
Melalui Yusuf aku telah
bertemu denganMu...
Melalui Yusuf aku telah
menyaksikanMu...
dan Yusuf benar-benar
utusanMu....
Ya Alloh, tetapkanlah aku di
dalam kesadaran ini...
Keesokan harinya, salah
seorang pengawal Yusuf menjemput Zulaikha untuk di ajak ke depan singgasana..
Alloh telah menurunkan
perintahNya pada Yusuf...fan kihu......nikahlah !
Dapatkah kau gambarkan
kegembiraan Zulaikha ? sesuatu yang didambakan selama ini.... agar ia bisa
senantiasa ada di samping kekasihnya telah terpenuhi.... tak teringat lagi onak
duri yang dulu pernah melukai dirinya.... tak teringat lagi penderitaan dan
kesedihannya....
Dapatkah kau gambarkan
kebahagiaan hati Zulaikha ?
ketika sang pencari telah
menemukan apa yang dicari...
ketika sang pecinta telah
bertemu dengan Yang dicintai...
ketika hati yang telah
dibakar bertemu dengan Api yang telah membakarnya...
ketika air lautan bertemu
dengan Samudra tanpa tepi...
Deru angin menerbangkan
butiran pasir di atas lautan pasir, Kilauan batu batu kecil di padang pasir
seolah suara tawa riang menyambut peristiwa ini... Matahari sedikit menunduk
menghormati perayaan pertemuan.... Pepohonan padang pasir bergoyang, dan
hewan-hewan melata sebentar-sebentar tampak.. seolah ikut merasakan kegembiraan
pada diri Yusuf dan Zulaikha...
Kebahagiaan terasa sempurna
sudah, demikian juga dengan Yusuf... Saling kasih mengasihi, saling sayang
menyayangi, saling cinta mencintai, kenikmatan dunia, harta, tahta, dan
pasangan yang dicintai sudah mereka peroleh.. Demikian juga dengan kenikmatan
iman, lezatnya iman terus menerus mereka rasakan....
Di malam hari ketika semua
sudah tidur, mereka berdua asyik bercumbu dengan sang Pencipta Malam-malam di
isi dengan lantunan hati pada sang Raja alam semesta..