Ya Allah … Terima kasih Engkau telah manamkan rasa rendah dalam
hatiku… Sebab rasa rendah ini telah menjauhkanku dari kesombongan Terima
kasih telah menciptakan banyak kekurangan pada ragaku.. Sehingga aku selalu
berusaha mempercantik jiwaku
Duhai Rabb…. Terima kasih telah
menciptakan kegelisahan pada hatiku… Sehingga aku berusaha mencari ketenangan
dari-Mu Terima kasih telah memberi kesedihan bagiku… Sebab tanpa
kesedihan, hatiku tidak bisa merasakan kebahagiaan Terima kasih telah memberi
rasa sakit pada hatiku… Sehingga aku bisa mengerti rasa sakit pada hati orang
lain
Al Maalik….. Terima kasih telah menanamkan rasa bodoh dalam
hatiku… Sebab itu membuatku mau belajar dan belajar lagi Terima kasih
telah membuatku tidak pandai bicara… Sehingga tidak banyak kebohongan keluar
dari mulutku Terima kasih telah membuatku tidak pandai bergaul… Sebab itu
menjauhkan aku dari kemaksiatan
Duhai Sang Pencinta Terima kasih telah
mematahkan hatiku…. Sehingga membuat aku semakin mengerti arti
Cinta Terima kasih telah menciptakan kesepian dalam hatiku… Sebab dalam
kesepian aku bisa merasakan kehadiran-Mu Terima kasih telah menciptakan
penantian yang panjang buatku… Sebab semakin panjang penantian akan semakin
bahagia saat pertemuan
Subhanallah…. Bagaimana mungkin aku menegakkan
kepalaku sementara seluruh alam menundukkan diri dibawah-Mu Bagaimana
mungkin aku membusungkan dada Sementara bahuku dibebani dengan
dosa-dosa Bagaimana mungkin aku memelihara dendam dalam hatiku sementara
aku selalu memohon ampunan-Mu Bagaimana mungkin aku menyimpan rasa
benci Sementara aku selalu merindukan Cinta ………..
Terima kasih
untuk "seseorang" yang telah membuat aku merenung dan mengerti bahwa semua
kekurangan yang ada pada diriku adalah suatu anugerah yang patut untuk
disyukuri. Renungkan dan cari tahu bahwa setiap kekurangan bisa jadi adalah kelebihan yang telah
dianugerahkan oleh Allah SWT kepada kita.
* Unknow
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bisakah seseorang melewati seumur hidupnya tanpa berbuat dosa?" Ayahnya menjawab sambil tersenyum : "tak mungkin, nak"
"Bisakah seseorang hidup setahun tanpa berbuat dosa?" tanyanya lagi. Ayahnya berkata: "tak mungkin, nak"
"Bisakah seseorang hidup sebulan tanpa berbuat dosa?" Lagi-lagi ayahnya berkata : "tak mungkin, nak"
"Bisakah seseorang hidup sehari saja tanpa berbuat dosa?" gadis kecil itu bertanya lagi. Ayahnya mengernyitkan dahi dan berpikir keras untuk menjawab: "mmmm..... mungkin bisa, nak"
"Lalu.... bisakah seseorang hidup satu jam tanpa dosa? tanpa berbuat jahat untuk beberapa saat, hanya waktu demi waktu saja, yah? Bisakah?" Ayahnya tertawa dan berkata : Nah, kalau itu pasti bisa, nak.
Gadis kecil itu tersenyum lega dan berkata : Kalau begitu ayah, aku mau memperhatikan hidupku jam demi jam,waktu demi waktu, momen demi momen, supaya aku bisa belajar tidak berbuat dosa. Kurasa hidup jam demi jam lebih mudah dijalani, ya?
Tips : Lima Peraturan Sederhana Untuk Hidup Bahagia
Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia 1. Bebaskan dirimu dari kebencian 2. Bebaskan pikiranmu dari kesusahan 3. Hiduplah secara sederhana 4. Berilah lebih 5. Kurangilah harapan
Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai dari awal. Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.
Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata.
Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur". Berjalanlah terus!
Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu.
Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya.....
Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.
Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.
Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas. Dalam kehidupan jarang akan kau temui seseorang yang kau cintai dan orang itu mencintaimu juga.
Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.
Kita selalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita cintai, daripada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.
Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang, janganlah kau mencari2 kekurangan2nya, kau jangan mencari2 alasan, kau jangan mencari2 kesalahan2nya. Malahan, kau atasi kesalahan2 itu, kau terima kekurangan2 itu, dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.
Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah mendapat penggantinya.
Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik.
Sumber : Unknow
Tuhan Sembilan Senti Oleh : Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asbak rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Mendengar
Lebih Baik dan Efektif
"Tuhan memberi kita dua telinga
dan satu mulut, supaya kita mendengar dua kali lebih banyak daripada
berbicara." --
N.N.
"When I am getting ready to
reason with a man, I spend one-third of my time thinking about myself and what
I am going to say and two-thirds about him and what he is going to say." -- Abraham Lincoln.
Mendengar, ternyata bukan hanya "masuk kiri keluar
kanan" atau sebaliknya. Mendengar ternyata benar-benar mencoba memahami
apa yang dikatakan orang lain. Mendengar adalah sebuah proses serius yang tidak
bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kebiasaan, refleks atau insting.
Mendengar adalah upaya untuk menghubungkan titik-titik yang kadangkala
menyatakan pesan-pesan yang tersembunyi.
Stephen Covey si pengarang "Seven Habits" itu,
mengungkapkan "most people do not listen with the intent to understand;
they listen with the intent to reply". Mendengar dengan lebih baik
secara nyata akan membuka kemungkinan munculnya berbagai peluang baru.
Anda mungkin mengalami penyakit kesulitan mendengar.
Berikut ini adalah intisari dari sebuah buku berjudul "Back-To-Basics
Listening" karangan Kevin J. Murphy yang juga menulis buku "Effective
Listening". Ia adalah seorang pentolan dari Effective Listening Institute.
Ada lima kendala dalam proses mendengar. Semua
kendala ini akan menjadikan proses mendengar menjadi tidak efektif. Kelima
kendala itu adalah:
- Preoccupation
- Preconceived ideas
- Talking too much
- Thinking of responses, dan
- A lack of interest.
Proses mendengar akan menjadi lebih efektif jika kita
berhasil mengatasi kendala-kendala di atas. Kendala-kendala itu bisa muncul
sendiri-sendiri, gabungan atau bersama-sama.
Preoccupation
Preoccupation atau preokupasi, adalah situasi di mana
seseorang sedang "sibuk" dengan sebuah urusan lain yang tidak secara
langsung berhubungan dengan topik pembicaraan. Sebagai contoh, kondisi ini bisa
dialami oleh seorang istri yang ditanya suaminya tentang urusan sekolah anak
sementara sang istri itu sedang memelototi film India kesukaannya. Atau, kondisi
ini juga bisa dialami oleh seorang rekan kerja yang tengah sibuk mengetik
proposal penjualan kemudian ditanya tentang di mana letak ordner penjualan
bulan lalu.
Kendala ini berakar pada kekhawatiran alamiah kita
berkaitan dengan sesuatu yang harus dikerjakan atau harus diselesaikan. Pada
dasarnya, ketidakmampuan kita untuk bersikap rileks dan tetap berkonsentrasi
pada saat yang sama akan memunculkan hambatan untuk berfokus pada realitas
"di sini" dan "saat ini". Apa yang terjadi dalam situasi
ini barulah sebuah proses "mendengar" dan sama sekali belum
"menyimak".
Preokupasi adalah kendala terbesar dalam proses mendengar.
Beberapa studi menunjukkan bahwa 40% dari waktu kita digunakan untuk memikirkan
masa lalu, 40% untuk memimpikan berbagai kejadian di masa depan dan hanya 20%
untuk berfokus pada situasi sekarang.
Preokupasi adalah juga sebuah fenomena pelarian sementara
dari realitas atau kenyataan. Dalam situasi yang menekan, kita akan cenderung
tenggelam dalam mengingat-ingat masa lalu yang lebih indah dan nikmat.
Kendala ini hanya bisa diperbaiki apabila kita memahami
fakta tentang kecenderungan setiap orang untuk terpeleset ke dalam keadaan yang
setengah melantur.
Jika anda mengalaminya, kendala ini bisa diatasi dengan
beberapa teknik berikut:
1. Lupakan. Bila sesuatu itu tidak terjadi sekarang
dan di sini, dan kita tidak bisa menyentuh, merasakan atau memperbaikinya -
lupakan saja. Itu sudah terjadi dan tidak bisa kembali lagi. Jika itu memang
buruk, petik saja hikmahnya dan perbaiki di masa depan. Jangan buang waktu
berjam-jam hanya untuk menebak-nebak. Jika Anda tetap memaksa, maka hal itu
hanya akan meningkatkan gejala preokupasi dan menambah frustrasi.
2. Bangun rutinitas. Ketidakpastian di masa depan
akan menciptakan kekhawatiran. Ciptakan rutinitas untuk mengurangi beban selalu
mengingat-ingat apa yang harus dikerjakan dan kapan mengerjakannya. Cobalah
implementasikan hal ini secara harian.
3. Don't sweat the small stuff (Anda mungkin pernah
membaca sebuah buku dengan judul ini). Jika mobil Anda sudah tidak pernah
dicuci sejak dua bulan yang lalu, ya sudah biarkan saja. Berfokuslah pada
hal-hal lain yang jauh lebih penting.
4. Delegasikan. Usahakan orang lain ikut ambil
bagian dalam menyelesaikan tugas Anda. Ini akan meringankan beban mental Anda.
5. Buat catatan. Mengingat segala sesuatu sampai ke
hal-hal yang kecil adalah beban berat. Sediakan selalu buku kecil atau post-it
di dekat Anda untuk keperluan mencatat.
6. Ambil nafas panjang, rileks dan tersenyumlah.
Berbagai hal jarang sekali lebih serius daripada apa yang terlihat. Berbagai
masalah biasanya lebih berat di kepala daripada di pundak. Dengan hal seremeh
ini, kemampuan Anda dalam mendengar akan seratus kali lebih efektif.
Preconceived ideas
Gejala inilah yang melahirkan istilah "pikiran sempit
atau cetek", "keras kepala" atau "masuk kiri keluar
kanan" atau malah "otak udang" dan "otak di dengkul".
Preconceived ideas adalah berbagai ide dan gagasan atau pemahaman yang sudah
terlanjur mendominasi pemikiran seseorang. Kendala ini mengakibatkan munculnya
penolakan terhadap berbagai input baru ke dalam pemikiran. Kendala ini juga
berhubungan dengan ego, rasa tidak nyaman dan kemalasan.
Gejala yang bisa dilihat dari keberadaan kendala ini adalah
kecenderungan untuk menggeneralisir dan bereaksi tanpa fakta-fakta yang
lengkap. Jelas, hal ini menghambat efektifitas proses mendengar.
Apa yang terjadi, adalah mendengar akan tetapi tidak
menyerap informasi yang dibutuhkan dan bereaksi dengan tepat. Jika Anda
dihinggapi kendala ini, Anda cenderung tidak suka ditantang dan tidak suka
mengubah sikap. Rasa tidak nyaman yang ada pada diri Anda akan menghambat
setiap input yang akan mempengaruhi atau merubah rasa nyaman Anda. Anda akan
cenderung tidak bisa diakses dan tidak sabaran. Teknik mengatasinya adalah
sebagai berikut:
1. Berhentilah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang
tentang Anda dan mulailah mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang.
2. Sediakan waktu dan bertanyalah. Lihatlah proses
menerima input sebagai suatu proses belajar yang menyenangkan. Berhentilah
memuja status quo. Berhenti mendengar berarti berhenti belajar.
3. Perlakukan tantangan dan komentar orang lain sebagai
penghargaan. Tidak perlu takut salah. Jika orang tidak menganggap Anda
penting, mereka tidak akan menantang atau berkomentar.
4. Ingatlah bahwa aturan bisa berubah. Sekalipun
Anda sudah pernah menghadapinya, tidak berarti Anda masih bermain di arena yang
sama. Apa yang tidak Anda ketahui bisa melukai Anda. Segala sesuatu pasti
berubah.
5. Berjalanlah agak jauh dengan sepatu orang lain
(Anda mungkin perlu membaca buku Edward De Bono tentang hal ini). Belajarlah
untuk sensitif.
Talking too much
The more you talks, the less you listen. The more you
talks, the less others will listen. Seseorang yang terlalu banyak berbicara
cenderung dilatarbelakangi oleh rasa bersalah, takut, khawatir, tidak nyaman
atau sifat egois. Orang yang talkoholic merasa bahwa mereka harus
bicara, wajib bicara, hanya untuk mendengar dirinya sendiri berbicara.
Efek samping dari berbicara terlalu banyak adalah hilangnya
dialog yang penuh arti karena pihak lain yang log out. Orang lain justru
akan mengabaikannya. Jika Anda merasa terlalu banyak berbicara, teknik
mengatasinya adalah sebagai berikut:
1. Pikirkan dahulu sebelum berbicara. Jika tidak,
bicara Anda bisa jadi malah membingungkan. Siapkan kerangka dari poin-poin yang
hendak Anda sampaikan. Hindari percampuran isu.
2. Evaluasi signifikansi dari pernyataan Anda. Jika
waktu Anda sempit, jangan ungkapkan sesuatu dengan berputar-putar.
3. Biarkan orang lain menguasai forum terlebih dahulu.
Anda mendengar, Anda belajar. Dengan mendengarkan orang lain terlebih dahulu,
Anda mungkin akan menemukan bahwa pemikiran Anda tidak relevan, tidak cocok
atau bahkan memalukan. Seorang pegawai yang akan Anda pecat, jika diberi
kesempatan untuk berbicara, mungkin justru akan mengajukan pengunduran diri.
Ongkosnya, bisa jadi jauh lebih murah.
4. Kendalikan mulut Anda. Mulut Anda harimau Anda.
Segelas minuman di dekat Anda bukan hanya untuk menghilangkan rasa haus. Gelas
itu bisa menunda bicara Anda.
5. Bertanyalah. Pertanyaan yang benar dan relevan
akan mengatakan pada orang lain bahwa Anda menyimak.
6. Biarkan orang lain jadi bintang panggung. Buatlah
orang lain menikmati lampu sorot. Biasakan sharing dengan orang banyak.
Lebih mudah mendengarkan dari banyak orang dari pada hanya satu mulut yang
harus didengarkan.
7. Makin banyak bicara akan makin banyak mengabaikan.
Makin banyak bicara, makin besar kemungkinan salah omong. Jika ragu, lebih baik
diam.
8. Batasi waktu. Jika Anda muncul kemudian orang
lain bersembunyi atau menghindar, itu mungkin tanda bahwa Anda terlalu banyak
berbicara dan kurang mendengarkan. Tunjukkan bahwa Anda punya prioritas lain.
Ciri
komunikasi yang sehat adalah seimbangnya proses memberi dan menerima informasi.
Pembicara harus membuat orang lain mendengar dan pendengar harus membuat orang
lain berbicara.
Thinking of responses
Kendala ini sering disebut dengan "bigger fish
syndrome", yaitu kesulitan untuk menjaga kesinambungan pernyataan. Untuk
melanjutkan pernyataan, seseorang biasanya masih dipengaruhi atau diokupasi
oleh pernyataan lawan bicara sebelumnya. Bahaya dari kendala ini adalah
dampaknya terhadap ego dan hubungan baik.
Anda harus mengetahui apakah pernyataan Anda memperkuat
atau malah melemahkan pernyataan Anda yang lain.
Kendala ini ada hubungannya dengan kendala "terlalu
banyak berbicara". Maka, Anda harus mengukur tingkat kepentingan dan
relevansi dari setiap pernyataan Anda. Dalam banyak hal, sindrom "the
bigger fish story" akan menciptakan perlombaan bicara yang menyimpang dari
maksud awalnya. Lebih jauh lagi, situasi itu akan berkembang menjadi percakapan
yang "tulalit".
A lack of interest
Kendala ini adalah kendala yang paling susah dijinakkan.
Manusia cenderung mengaitkan sesuatu hanya dengan hal-hal yang dimengerti,
dengan orang atau dengan sesuatu yang bisa memberi manfaat secara pribadi. Jika
sesuatu tidak menarik, Anda cenderung akan mengabaikannya. Padahal, bisa jadi
yang tidak menarik itu dapat merubah nasib Anda.
Adalah lebih mudah untuk mendengarkan tentang kenaikan gaji
atau kenaikan penjualan. Mengapa? Sebab hal-hal itu memang lebih mudah
dimengerti dan mempunyai akibat langsung yang bisa diukur.
Kendala ini hanya muncul apabila Anda beranggapan bahwa
pesan yang disampaikan, bahkan pengantar pesan itu sendiri, adalah tidak
penting atau tidak relevan.
Jika Anda tidak memiliki ketertarikan, maka Anda tidak akan
mendengarkan. Dan satu hal lagi, itu pasti kelihatan. Sinyal itu akan
menunjukkan bahwa Anda kurang respek terhadap pernyataan orang lain.
Jika Anda belum bisa berbicara sistematis, atau jika Anda
sering mengalami kekakuan dalam pembicaraan, atau jika Anda sering mengalami
keheningan dalam pembicaraan karena Anda tidak tahu apa lagi yang harus
dibicarakan, atau jika Anda sering berbicara hal-hal yang sebenarnya di luar
konteks, teknik mengatasinya adalah sebagai berikut:
1. Carilah kesamaan dan persamaan. Setiap orang
pasti memilikinya. Hampir semua orang pasti punya anak, pernah bersekolah,
punya hobi, punya keluarga atau mungkin suka berolahraga. Bicaralah tentang
semua itu. Hasilnya, Anda akan semakin akrab.
2. Bertanyalah dalam rangka belajar. Anda bisa
mendalami pemahaman orang lain dengan bertanya. Sekaligus, ini adalah salah
satu cara untuk menemukan kesamaan dan persamaan.
3. Hargai orang lain sebagai dirinya, jangan
pekerjaannya. Artinya, Anda juga perlu menyesuaikan diri dengan situasi dan
kondisi orang lain. Mungkin, Anda adalah seorang eksekutif puncak. Akan tetapi
jika ada kondangan, mungkin Anda harus tetap memakai batik atau baju koko.
Mendengar ternyata tidak mudah. Tidak mendengar, tidak
belajar. Tidak mendengar dengan lebih baik, Anda tidak makin pintar.
http://www.indodigest.com/indonesia-special-article-48.html
Belenggu
Stupid Disease
By Edy Zaqeus, editor Pembelajar.com
Di luar dugaan, kebanyakan orang-orang yang merasa dirinya pintar dan
berpendidikan, ternyata justru paling sering menderita stupid disease.
Apa itu stupid disease alias penyakit goblok? Stupid disease didefinisikan
sebagai ketidakberdayaan intelektual dan emosional untuk merespon permasalahan
dengan semestinya, sehingga seseorang yang mengidap stupid disease cenderung
gagal mengambil keputusan yang tepat dan cenderung melakukan kesalahan yang sama
berulang-ulang.
Penyakit goblok juga didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana rasionalitas
maupun emosi sebegitu dominannya, sehingga pola respon terhadap masalah yang
mengejawantah sering kurang efektif, bahkan kontraproduktif. Nah, apa tanda-tanda
yang bisa menunjukkan bahwa seseorang sedang menderita penyakit goblok? Berikut
adalah indikasinya.
1. Sadar Bermasalah
Orang bisa menghadapi berbagai macam keterbatasan atau kesulitan, hanya karena
ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang terbelit oleh persoalan tertentu.
Karena merasa tidak ada masalah, maka ia menganggap segalanya akan berlangsung
beres-beres saja. Jadi, kesukaran timbul karena memang yang bersangkutan tidak
ngeh bahwa masalah sedang terjadi. Ini berbeda dari orang yang kena penyakit goblok.
Orang seperti ini biasanya cukup memiliki kesadaran bahwa ia memang sedang
terbelit oleh sebuah masalah. Kadang masalahnya masih kabur, kadang sudah
begitu jelas. Yang menarik, tak jarang terjadi bahwa orang ini ngeh ada
masalah, namun secara sadar ia berusaha mengingkarinya. Dengan bersikap seperti
itu, ia berharap masalah bisa hilang dengan sendirinya.
2. Masalahnya Jelas
Orang bijak bilang, “Jika Anda bisa mendefinisikan suatu masalah, maka separuh
jawabannya sudah tersedia”. Konon demikianlah yang memang umumnya berlaku.
Namun berbeda sekali halnya dengan situasi pada orang yang terjangkit penyakit
goblok. Kata-kata bijak tersebut tidak serta merta berlaku. Orang-orang yang
secara intelektual tidak diragukan kemampuannya ini, jelas tidaklah terlalu
sulit memastikan apa masalah riil yang dihadapinya. Sungguh menarik bahwa ia
bisa mendefinisikan masalahnya, mengetahui kira-kira apa faktor penyebabnya,
bahkan kadang bisa memilah-milah faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhinya.
Secara pasti orang ini sadar dirinya bermasalah. Namun yang terjangkit penyakit
ini adalah orang yang cenderung mengingkari realitas. Ia lebih yakin dengan
“keadaan yang seharusnya terjadi” menurut keinginannya. Maka, sekalipun dia
mampu memerinci permasalahannya, separuh jawaban yang tersedia dalam setiap
persoalan itu seolah raib. Ada
hal-hal non-rasional yang mengaburkan mata intelektualitasnya, sehingga di
matanya tak pernah ada solusi yang bisa membuatnya sreg.
3. Emosi Kuat
Ciri khas lainnya adalah keterlibatan unsur emosi yang sangat kuat dalam pola
pandang. Sayangnya, emosi yang terlibat bukanlah jenis emosi yang bisa membantu
melihat suatu persoalan dengan lebih bijak, matang, dan dewasa. Para ahli mengakui peran emotional quotient (EQ) atau
kecerdasan emosi dalam mendorong kesuksesan seseorang. Dorongan-dorongan
emosional secara positif bisa membentuk suatu kematangan emosi dan ketajaman
naluri sehingga menghasilkan pilihan-pilihan yang kreatif, cerdas, inovatif dan
penuh vitalitas. Keberadaan EQ dalam hal ini melengkapi atau mengisi kekosongan
di ruang-ruang kecerdasan intelektual (IQ). Namun kuatnya unsur emosi dalam
virus penyakit goblok mengakibatkan melemahnya kemampuan intelektual si
penderita, sehingga ia gagal berpikir secara jernih.
4. Jalan Buntu
Akibat hilangnya kemampuan memandang persoalan secara jernih dan bijaksana,
maka tak heran jika penderita penyakit goblok sulit menemukan solusi yang
tepat. Sesungguhnya jika dipaksa menuliskan permasalahannya dan mereka-reka
solusinya secara simulatif (di atas kertas), si penderita akan dengan mudah
menunjukkan kadar kecerdasannya. Ia pun bisa mendapatkan saran-saran dari
orang-orang terdekat — bahkan dari ahli-ahli yang berkompeten — yang secara
obyektif berpeluang membantunya mengatasi persoalan. Namun jika tiba waktunya
untuk mengambil keputusan dan aksi kongkrit, mulailah ia melihat banyak
kekurangan dari setiap solusi. Orang luar akan dengan mudah melihat bagaimana
sosok yang pintar ini, mendadak berubah jadi orang yang takut mencoba, takut
mengambil risiko atau takut menghadapi hal-hal baru. Ia menghadapi jalan buntu,
bersifat pasif, tidak mau keluar dari daerah aman atau memilih menanggung
risiko seperti yang pernah dialami sebelumnya.
5. Rela Menderita
Satu akibat serius dari penderita penyakit goblok adalah kesediaannya untuk
merasakan penderitaan atau tekanan-tekanan psikologis, sebagai konsekuensi dari
sikapnya untuk pasif menunggu, tidak berani mengambil keputusan, atau
menyerahkan persoalan pada sang waktu. Karena siksa psikologis tersebut terjadi
akibat hasil pilihan sikap secara sadar, penderita penyakit goblok sering bisa
“menikmati” penderitaannya. Artinya, ia rela menderita dan menganggap kondisi
itu sudah merupakan risiko pilihannya. Tak mengherankan, penderita penyakit
goblok ini lumayan tahan banting. Sekalipun ada pilihan penyelesaian masalah,
saran-saran atau usulan-usulan yang sangat baik, namun bila hal-hal tersebut
belum bisa menyentuh kembali kesadarannya, penderita lebih suka menghindarinya.
Orang seperti ini bisa terlihat sangat logis dan rasional dalam mempertahankan
keyakinannya yang keliru. Dan ia benar-benar bisa memilih menderita daripada
meninggalkan keyakinannya. Pihak luar sering tidak sabar dengan kenaifannya dan
sering mengganggapnya sebagai orang yang berlaku konyol atau bodoh.
6. Kebodohan Berulang
Indikasi yang paling jelas dari penderita penyakit goblok adalah
kecenderungannnya untuk melakukan kekeliruan yang sama berulang-ulang. Ia bisa
jatuh sakit secara fisik, merasa sakit secara psikologis, penuh keraguan,
kekhawatiran, ketakutan dan bingung harus melakukan apa. Ketika terbit niatan
untuk menyelesaikan masalah, begitu mudahnya ia mentok. Saat niatan sudah lebih
sungguh-sungguh, anehnya ia menjadi rentan dan begitu mudah tertarik ke situasi
gamang seperti sebelumnya. Saat ia berani mengambil keputusan dan melakukan
tindakan konkrit, ia jadi mudah menyerah. Justru pada tahap seperti inilah
akibat-akibat terparah dari penyakit goblok baru disadari. Ia selalu kembali ke
titik nol dan merasa tak pernah berhasil mencapai kemajuan berarti.
7. Titik Kesadaran
Satu hal menarik yang bisa dilihat dari penderita penyakit goblok adalah adanya
titik-titik kesadaran kecil dalam riak-riak permasalahannya. Orang lain bisa
dengan mudah melihat orang ini punya kesadaran yang cukup untuk memahami
persoalan lebih proporsional dan menerima realitas. Ini merupakan bekal vital
bagi upaya penyelesaiannya. Hanya saja, titik-titik kesadaran kecil ini begitu
rapuhnya, sehingga lebih sering tertelan oleh efek destruktif penyakit goblok
yang makin akut. Jika penyakit ini menyerang dalam jangka waktu cukup lama,
maka titik-titik kesadaran seperti ini akan timbul dan tenggelam. Nah, bila si
penderita sendiri atau orang-orang di sekitarnya yang bersimpati gagal
menangkap sinyal ini, atau kemudian tidak menggunakannya sebagai titik awal
upaya penyadaran secara menyeluruh, bisa dipastikan penderitanya akan jatuh dan
jatuh lagi. Si penderita baru saja memasuki lingkaran setan yang tak bertepi.
Menjinakkan Stupid Disease
Perlu diingat, seseorang bisa dikategorikan sebagai menderita penyakit goblok
jika dirinya mulai sadar bahwa situasi yang membelenggunya saat itu harus
segera dihentikan, dan pada tingkat tertentu ia telah berusaha keras dalam
mengatasi keadaannya. Selama seseorang masih bisa menikmati atau mentolerir
penderitaan dan kerugian akibat keputusannya sendiri, dan ia tidak
sungguh-sungguh bertindak supaya lepas dari situasi itu, ia bukan penderita
penyakit goblok.
Seperti disinggung di atas, penderita stupid disease umumnya adalah mereka yang
memiliki kecerdasan dan kesadaran yang lumayan. Nah, kecerdasan dan kesadaran
itu mirip dengan zat antibodi dalam tubuh kita yang mampu menangkal penyakit
atau menyembuhkan diri sendiri. Persoalannya tinggal bagaimana mengupayakan
supaya kesadaran itu bisa terus terjaga, sampai yang bersangkutan bisa
mengambil keputusan-keputusan yang tidak lagi merugikan dirinya sendiri.
Sesungguhnya, setiap penderita penyakit goblok perlu bantuan psikolog atau
psikiater. Tetapi bila itu tidak menjadi pilihan, sejumlah langkah konstruktif
berikut bisa dipakai untuk menyembuhkan diri sendiri. Berikut ulasannya.
1. Teman Sharing
Dalam kondisi normal, setiap orang membutuhkan teman, apalagi penderita
penyakit goblok. Bedanya, teman biasa hanya menjadi tempat berkeluh kesah.
Mereka hanya memberi nasihat normatif dan tidak ingin terlibat. Teman berbagi
yang dibutuhkan penderita penyakit goblok harus bekerja lebih keras, kadang
bahkan harus sedikit terlibat. Nah, teman berbagi di sini tidak sekedar hanya
jadi ‘tong sampah’, atau malah menyerahkan semua keputusan di tangan si
penderita. Teman ini dituntut untuk menjadi partner yang kritis, mengajak
penderita melihat masalah secara obyektif, mencari alternatif dan membantunya
mengambil keputusan dan tindakan terbaik.
Penderita penyakit goblok tidak selalu blank. Saat-saat tertentu, muncul
kesadarannya untuk memandang masalah secara proporsional. Ia juga mampu
menemukan alternatif dan mengenali mana yang menguntungkan serta mana yang
merugikan. Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan. Di sini teman berbagi
harus bisa mengkondisikan agar kesadaran itu menjadi kesadaran dominan. Siapa
yang bisa jadi teman berbagi? Teman dekat, pasangan, anggota keluarga, termasuk
penasihat profesional.
2. Menuliskan Masalah
Dalam kondisi terbelenggu penyakit goblok, orang sulit berpikir jernih karena
situasinya memang cenderung emosional. Cara kuno untuk mengurangi efek ini
adalah dengan menuliskan masalahnya di selembar kertas. Semakin detail masalah
faktor-faktor penyebabnya didefinisikan, maka semakin mudah pula pilihan
solusinya ditemukan. Sesungguhnya, menuliskan masalah, penyebab dan solusinya
(dari pilihan terburuk sampai yang terbaik) dalam selembar kertas itu, tidak
ditujukan untuk memaksa orang mencari solusi instan. Itu mustahil dalam kondisi
terbelenggu oleh penyakit goblok. Tujuannya hanyalah melatih dan mendisiplinkan
diri supaya berada pada jalur kesadaran kognitif. Kesadaran dan kejernihan
berpikir perlu terus-menerus dirangsang kemunculannya, sehingga akhirnya bisa
mengalahkan cara pandang yang terlalu emosional.
Satu metode yang ampuh untuk menggugah semangat adalah dengan lebih
mengorientasikan diri pada masa depan. Menuliskan langkah-langkah untuk meraih
tujuan dan mimpi-mimpi ke depan sangat sugestif sifatnya. Cara ini membuat
kecerdasan dan kesadaran terangsang untuk bereaksi maksimal. Kegiatan ini perlu
terus dilakukan, baik setiap kali penderita merasa down maupun saat muncul
semangat baru, sampai akhirnya tertulis komitmen-komitmen yang lebih tegas
untuk lepas dari belenggu masalah. Komitmen inilah yang perlu didiskusikan
dengan orang terdekat yang selama ini jadi teman berbagi.
3. Memperluas Konteks
Menderita penyakit goblok bisa berarti menghadapi masalah yang sama, orang yang
sama, sebab yang sama dan akibat-akibat yang relatif sama, secara
berulang-ulang. Untuk lolos dari lingkaran setan ini, tak ada cara lain yang
lebih ampuh selain mencoba berbagai hal yang serba baru: lingkungan baru, cara
kerja baru, pekerjaan baru, mode rambut baru, cara berpakaian baru, cara
berpikir baru, aktivitas baru, komitmen baru, kenalan-kenalan baru, hubungan
baru dan lain-lain. Lebih bagus lagi jika diri ini ditantang melakukan banyak
hal yang selama ini ditakutkan (hal-hal positif tentunya). Tidak mudah memang,
namun jika berhasil, perasaaan kemenangan yang luar biasa akan melingkupi
kondisi psikologis kita. Ini bukan berarti lari dari masalah. Namun ini
ditujukan untuk memperluas konteks kita, melepaskan diri dari keterkungkungan
psikologis dan fisik. Daripada masa lalu, hal baru lebih mudah membuka kesadaran
kita.
4. Mengubur Masa Lalu
Ini hal yang paling sulit, namun jika tidak ingin terantuk-antuk terus oleh
penyakit goblok, masa lalu harus dikubur. Sesungguhnya, kata yang lebih tepat
adalah meletakkan masa lalu pada tempat yang semestinya. Artinya, tidak
menjadikannya sebagai hantu yang setiap saat bisa memperlemah komitmen kita.
Penderita penyakit goblok biasanya lebih suka mengatakan; “Tidak mudah
melupakan dia...”, “Masalahnya tidak sesederhana yang kamu kira..”, “Aku butuh
waktu...”, “Kamu tidak bisa merasakan sakitnya...,” dan sebagainya. Jika ingin
benar-benar mengubur masa lalu, lebih baik mengungkapkan komitmen seperti ini:
“Aku akan mencoba!”, “Tidak mudah, tapi aku akan berusaha!”, “Aku berjanji pada
diriku sendiri!” dan sebagainya. Memperluas konteks dan mengubur masa lalu
menjadi satu paket resep penyembuhan penyakit goblok. Jangan ditawar-tawar
lagi!
5. I Love My Self
Penderita penyakit goblok adalah orang yang paling sering mengabaikan diri
sendiri. Mereka rela menderita demi sang penyebab penderitaannya itu. Mereka
bahkan cenderung menyiksa dan menyakiti diri sendiri. Maka jangan berharap
orang seperti ini memiliki kepercayaan diri untuk bisa lepas dari sumber
masalah. Ini jelas-jelas sangat tidak sehat. Counter attack untuk kecenderungan
ini adalah dengan mencoba lebih mencintai diri sendiri. Egois? Bukan! Dalam
artian positif, itu berarti mencoba lebih mengutamakan kepentingan sendiri,
tidak mau dirugikan orang lain, tidak mudah berkorban untuk hal yang tidak
jelas manfaatnya, tidak mau dirugikan oleh pilihan-pilihan sendiri dan
melakukan tindakan-tindakan yang lebih memanjakan diri sendiri.
6. Langkah
Konkrit
Hanya dengan memutuskan untuk lepas, tidak berarti seseorang telah lepas. Jadi,
setelah cukup menuliskan berbagai komitmen dan rencana tindakan ke depan,
penderita harus melakukan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya. Ini
merupakan proses atau fase transformasi diri yang harus terus dijaga
keberlangsungannya. Ingat, virus penyakit goblok bisa menyerang kembali.
Manakala seseorang sedang labil, ia bisa mudah terjebak dalam kebodohan seperti
sebelumnya. Jadi, proses transformasi diri ini harus dijaga dan dijalankan
secara konsisten. Konsolidasi diri harus menyeluruh, kesadaran terus diperkuat
sampai fase penyembuhan ini selesai, sampai akhirnya penderita menemukan
dirinya yang baru dan terbebas dari penyakit ini. Virus stupid disease bisa
tumbuh pada diri seseorang saat ia menghadapi berbagai kasus seperti masalah
pekerjaan, karir, obsesi atas hal tertentu atau hubungan antar personal
umumnya. Pendek kata, saat seseorang merasa tidak bisa memfungsikan kapasitas
intelektualnya untuk mengambil pilihan-pilihan terbaik, ia perlu waspada,
karena bisa jadi penyakit goblok sudah menjangkitinya.
Edy Zaqeus adalah editor pembelajar.com (http://www.pembelajar.com), penulis
buku "Kontektualisasi Ajaran I Ching" dan dua buku best seller
"Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah" dan "Resep Cespleng
Berwirausaha". Ia dapat dihubungi di edzaqeus@yahoo.com.
http://www.indodigest.com/indonesia-special-article-53.html
Bagi yang serius bermain bulutangkis, sebaiknya pilih raket yang sesuai dengan karakter permainan Anda. Pilihan yang tepat, akan membantu prestasi Anda.
Raket dengan teknologi yang dimiliki kerap menjadi faktor penting atlet bulutangkis. Teknologinyapun berkembang signifikan, dari semula menggunakan bahan material kayu hingga raket yang dikenal sekarang sudah menggunakan bahan aluminium atau titanium, dengan pertimbangan bahwa bahan aluminium lebih ringan hingga bisa memaksimalkan teknik pukulan.
Awalnya, pada zaman pertengahan, di Inggris dikenal sebuah permainan yang menggunakan shuttlecock dengan pemukul berupa dayung atau tongkat yang kala itu disebut battledores. Dayung atau tongkat tersebut digunakan untuk memulul shuttlecock dan menjaga agar tetap di udara serta mencegahnya menyentuh tanah.
Perkembangan pemukul yang belakangan dikenal dengan nama raket ini terbilang pesat, pada awalnya secara tradisional raket dibuat dari bahan kayu. Pemilihan bahan berikutnya adalah aluminium atau logam ringan lainnya. Kini hampir semua raket bulutangkis professional berkomposisikan komposit serat karbon (plastik bertulang grafit). Serat karbon memiliki kekuatan hebat terhadap perbandingan berat, kaku dan memberi perpindahan energi kinetik yang hebat. Namun sejumlahmodel rendahan alias bukan merk ternama, masih menggunakan baja atau aluminium untuk sebagian atau keseluruhan raket.
Komponen yang tidak lepas dari raket adalah senar. Senar menjadi salah satu bagian yang paling diperhatikan dalam bulutangkis. Jenis senar berbeda dan memiliki dan memiki cirri-ciri yang berlainan pula terhadap efek pantulan kok. Keawetan senar secara umum juga bervariasi tergantung intensitas pemakaian. Kebanyakan senar memiliki ketebalan 21 ukuran dan diuntai dengan ketegangan 18 sampai 30+ lb. Pemilhan senar raket ini tergantung kepada kapasitas pemain. Tentunya akan berbeda antara pemain amatir dengan yang sudah professional.
Sebagai panduan memilih raket, berikut adalah paparan ringkas spesifikasi dan istilah untuk raket bulutangkis standar. Spesifikasi berikut memang bukan patokan Standar Internasional, hanya sebagai pedoman umum saja.
1. Kelenturan Gagang (Stiffness of Shaft) a. Medium (Fleksibel) Pemindahan sebagian tenaga yang berpusat pada pergelangan tangan. Pemusatan energi untuk tungkai yang fleksibel saat raket diayun memberikan daya tolak lebih besar saat shuttlecock menyentuh raket. Jenis ini sangat baik untuk pertahanan (defensive) atau untuk mengontrol gaya permainan lainnya.
b. Stiff (Limited Flexibility) Pemindahan tenaga yang memungkinkan dari pergelangan tangan. Tangkai jenis ini sangat dianjurkan untuk teknik permainan bertahan (defensive). Maupn permainan serangan (offensive).
c. Extra Stiff (Minimum Flexibility) Pemindahan tenaga secara maksimum yang berpusat pada pergelangan tangan. Gerakan tangkai raket yang minimalis memberikan ketepatan yang lebih baik atas penempatan shuttlecock. Raket dengan tangkai jenis ini sangat ideal untuk teknik permainan serangan (offensive) seperti smashing, net kill dan sebagainya.
2. Bentuk Frame Raket a. Conventional - Berbentuk Oval Standar. b. Isometric - Berbentuk cenderung persegi (Square Head Share).
3. Komposisi Frame a. Basis Material - AluminiumHi - Modulus Graphite - Super Hi-Modulus Graphite - Ultra Hi-Modulus Graphite - Nano Carbon
b. Mesh - Woven Kevlar - Titanium Composite (Utility Titanium) - Ultra Titanium - GForceTi - UltimumTi
4. Shaft Composition (Komposisi Gagang) a. Bahan Baku - Aluminium - Hi-Modulus Graphite - Super Hi-Modulus Graphite - Ultra Hi-Modulus Graphite - Nano Carbon
b. Mesh (join gagang dengan frame) - Titanium Composite (Utility Titanium) - Ultra Titanium - UltimumTi
5. Bobot Raket a. 2U (90-94g) b. 3U (85-89g) c. 4U (80-84g)
6. Panjang Total (frame tip – handle end) a. Standard (665mm / 26.0 inches) b. Long (675mm / 26.5 inches).
7. Ukuran Grip a. Hi-Qua G2 – 3.25 inches, Tactic / Yonex G2 – 4.00 inches b. Hi-Qua G3 – 3.50 inches, Tactic / Yonex G3 – 3.75 inches c. Hi-Qua G4 – 3.75 inches, Tactic / Yonex G4 – 3.50 inches d. Hi-Qua G5 – 4.00 inches, Tactic / Yonex G5 – 3.25 inches
8. Toleransi Tegangan Senar a. Aluminium & Hi-Modulus Graphite Frames - Main 18-20lbs (8-9kg) - Cross 20-22lbs (9-10kg).
b. Super & Ultra Hi-modulus Graphite Frames - Main 18-24lbs (8-11kg) - Cross 20-26lbs (9-12kg).
9. Titik Keseimbangan dari Ujung Grip a. 270-280mm = Head Light (Defensive) b. 275-285mm = Neutral (All Round) c. 285-295mm = Head Heavy (Offensive) d. 295-300mm = Extra Head Heavy (Offensive)
Meski bukan patokan khusus, bagi para peminat bulutangkis, mungkin sudah saatnya memilih raket yang sesuai dengan kapasitas permainan masing-masing. Karena tiap pemain memiliki kemampuan berbeda. Jadi jangan salah pilih raket, percuma punya raket canggih dengan kualitas teknologi terbaru kalau ternyata tidak sesuai.
Sumber: Tabloid Sporty
Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi, saat menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit.
Mari kita coba lihat dalam dua kasus di bawah ini : 1. Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman.
Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.
Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.
Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ? Mereka menggunakan pensil !
3. Suatu hari, seorang pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Sang pemilik apartemen mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah tersebut. Seorang pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar kedua meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, pakar ketiga hanya menyarankan satu hal, bahwa inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu. Pakar tadi hanya menyarankan kepada sang pemilik apartemen untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, supaya para pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan 'menunggu ' dan merasa 'tidak menunggu lift'. It works!
*** Smiley : Filosofi KISS ( Keep It Simple Stupid ), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa. Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya
Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun,
apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu
dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang
hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300
kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.
Ini yang terjadi. Ketika kutu itu
berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur
dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu
sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri.
Ia mulai berpikir,
"Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya
disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat
itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan? Kemampuan saya memang cuma
segini. Inilah saya!"
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek
api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak
korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang
sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh
lingkungannya.
Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek
api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia
tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja
menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia
tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek
api yang bisa mengkerdilkan anda.
Teman kerja juga bisa jadi kotak korek
api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti
itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek
api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.
Korek api
juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang
rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek
api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak
tercermin dalam aktivitas sehari-hari.
Bila potensi anda yang
sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api
itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu
menjadi presenter di televisi. Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata
yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates
tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer.
Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi motivator nomor
satu di Indonesia.
Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah
menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak
menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah
menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.
Begitu pula dengan
Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65
tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika
usianya sudah lebih dari 62 tahun.
Nah, bila anda masih terkungkung
dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti
Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela
adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh
sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai
keterbatasan.
BREAK YOUR BORDER . . . . TOUCH THE SKY . . . . !
Dahulu
kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal
saleh dan bijak. Di suatu pagi yang basah, dengan langkah lunglai dan rambut
masai, datanglah seorang lelaki muda, yang tengah dirundung masalah. lelaki itu
tampak seperti orang yang tak mengenal bahagia. Tanpa membuang waktu, dia
ungkapkan semua resahnya: impiannya gagal, karier, cinta dan hidupnya tak
pernah berakhir bahagia.
Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya
dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas,
lalu dia aduk dengan sendok, tenang, bibirnya selalu tampilkan senyum.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya?" pinta Pak tua itu.
"Asin dan pahit, pahit sekali",
jawab sang tamu, sambil meludah ke tanah.
Pak Tua itu hanya tersenyum. Ia lalu
mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat
tinggalnya. Kedua orang itu berjalan beriringan, tapi dalam kediaman. Dan
akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, masih
dengan mata yang memandang lelaki muda itu dengan cinta, lalu menaburkan
segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, diaduknya air
telaga, yang membuat gelombang dan riak kecil. Setelah air telaga tenang, dia
pun berkata,
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan
minumlah".
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga,
Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?"
"Segar," sahut tamunya.
"Apakah kamu masih merasakan garam di
dalam air itu?" tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk
punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi
telaga.
"Anak muda, dengarlah. Pahitnya
kehidupan seumpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa
pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita
rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki.
Kepahitan itu anakku, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan
segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan
kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu
lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk
menampung setiap kepahitan itu. Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai
pandangan hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar dari keleluasan itu."
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasihat.
"Hatimu anakku, adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang
mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan
kebahagiaan." *****
Titik
Kemuliaan Ibu Rumah Tangga Sumber: MQ Media
On Line - Telaah Utama
"Rasa kasih
sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang
menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga
akan kering tanpa makna." (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei)
SESAAT
menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe, menulis sepucuk
surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling
populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini.
Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:
"…Waspadailah
popularitas wahai wanita…Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya
adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang
ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan
berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya
kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia
dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan
manusiawi."
Marilyn Monroe
tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn
Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar
fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan
mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai
masalah. Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang
kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga,
penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara
menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang
wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral
yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi,
inilah yang terjadi di barat sana.
Kaum wanita
yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan,
dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya
telah merampas kebahagiaan dan fitrah mereka sendiri. Mahmud Mahdi Al Istambuli
menyampaikan kabar kesadaran mereka itu sebagai berikut: "Mereka baru-baru ini
mulai mengajukan persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka tahu apa
tujuan di balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. Wanita-wanita
barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di negeri Islam.
Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."
*** MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia
menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia
mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan
keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak,
mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada
orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban
mulia.
Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari
kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara
tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam
gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.
Sesungguhnya,
yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini diajarkan
Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat
mulia.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei
mengatakan, "Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter,
dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada
tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah.
Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya
merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna
jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah
tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah
tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa
makna."
Dr. Mien Uno,
salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. "Saya
menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan
tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga
bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti
yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya,
justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia
melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak
dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia
berkarir sebagai ibu rumah tangga."
Sebuah puisi
dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea,
mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat
terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:
Istriku Yang Tidak Bekerja Suatu ketika Siapa yang
mengerik sagu? Siapa merawat ternak itu? Menjadi tumbuh dan menjual
makanannya Hingga keluarga bertahan Siapa menimba air di sumur? Merawat
dan menyayang anak-anak itu? Merawat yang sakit? Yang pekerjaannya
menghabiskan waktu Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik
dengan temannya? Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak? Yang perjuangannya
Tak terlihat Tak terdengar Tak dihargai Tak terbantu Membantu
pembangunan? Siapa peduli untuk bilang Benarkah Istriku tidak
bekerja?
Keterhormatan
profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Keterhormatan itu
akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu mewujudkan tiga
struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Syeikh Muhammad Al-Ghazali,
yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah.
Menurut Al
Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus
berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus
menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya
tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih
dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu
rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya.
Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap
perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu
bersyukur atas nikmat yang diperoleh.
Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan
kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak
pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi
gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia
itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal
menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan
catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu
rumah tangga sebagai profesi terhina? Wallahua'lam.
(Syam/MQ)***
Ibuku selalu bertanya
padaku apa bagian tubuh yang paling penting.
Bertahun-tahun, aku selalu
menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara
adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga,
Bu." Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan
aku menanyakanmu lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian sebelum dia
bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini
pasti benar. Jadi, kali ini aku memberitahukannya, "Bu, penglihatan sangat
penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan
berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak
orang yang buta."
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru
dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia
selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun,
anakku."
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih.
Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat
kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku
untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku,
"Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting,
sayang?"
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku
sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
Ibu melihat
kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan
menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian
tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku
telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus
belajar pelajaran yang sangat penting."
Dia memandangku dengan wajah
keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku,
bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
Aku bertanya, "Apakah
karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena
bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika
mereka menangis. Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk
menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar
kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu
membutuhkannya."
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting
adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati
terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa
yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang
TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.
***
Berjuang Menjadi
Orangtua Cerdas
Jakarta, Kompas
Berawal dari keprihatinan menghadapi
situasi masa kini, sebagian orangtua bersatu membentuk komunitas. Tekadnya
sederhana, mencerdaskan sesama orangtua agar terhindar dari
”kesesatan”.
Mereka berusaha menjadi orangtua
kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, atau terbujuk
iklan.
Mungkin beginilah paradoks zaman
modern, ketika arus kehidupan dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan
sering kali membuat seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak
punya akses cukup untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut.
Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi hal yang
dipercaya begitu saja.
”Anak-anak sering menjadi obyek
penderita kesalahpahaman. Sebab itu, yang dicerahkan harus orangtuanya. Dengan
mailing list, kami bergerilya,” tutur Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang
mengampanyekan penggunaan obat secara rasional (rational use of drug/RUD) kepada
konsumen medis.
Selama tiga tahun terakhir ini,
Wati, demikian sapaannya, berusaha membina dan mencerdaskan para orangtua
melalui komunitas maya yang diberi nama Grup Sehat. Moto komunitas ini ”be
smarter be healthier”. Upayanya, yang telah tahunan dirintis, didukung
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga menjadi salah satu
konsultan WHO.
Kini, pada mailing list
sehat@yahoogroups.com telah tercatat 3.218 anggota dari penjuru
Indonesia hingga yang bermukim di
luar negeri. Para orangtua dapat berkonsultasi
bebas dengan Wati dan sejumlah dokter lain, sampai dibimbing mempelajari ilmu
kesehatan terkini dari berbagai situs terpercaya.
Pujiati (29), yang tinggal di
Surabaya, dulu
kerap bolak-balik ke dokter anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering
sakit. Setiap kali sakit Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk
puyer. Ketika itu dia belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan
batuk pilek pada anak-anak yang umumnya disebabkan
virus.
Virus dapat dilawan dengan
meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau penyakit itu disebabkan bakteri, baru
diperlukan antibiotik. Sebagian dokter bahkan sering memberikan antibiotik
paling ampuh, mahal, yang sebenarnya justru antibiotik spektrum luas (broad
spectrum). Akibatnya, beragam bakteri yang tergolong baik pun turut
tergilas.
”Setelah bergabung dengan Grup
Sehat, saya baru menyadari semua praktik itu kelirumologi alias salah. Kini,
kunjungan ke dokter anak sangat jarang, dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek
cukup home treatment saja. Banyak minum air putih hangat, makan makanan yang
disukainya, dan istirahat. Kalau demam, saya kompres dia dengan air hangat atau
minum obat penurun panas saja. Enggak perlu antibiotik dan suplemen,” tutur
Pujiati.
Tak mudah bagi Pujiati menularkan
pengetahuan itu kepada suaminya. Sang suami malah sempat mengira komunitas yang
diikutinya beraliran aneh. Orang awam memang kerap mengira komunitas ini
anti-obat, anti-antibiotik, bahkan anti-dokter. Padahal sama sekali tidak.
Koridor konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup
Sehat.
”Antibiotik itu anugerah kehidupan,
harus dieman-eman (disayang-sayang). Ketika kita betul-betul membutuhkan
antibiotik, dia adalah penyelamat jiwa,” ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan
Orang Tua Peduli.
Penggunaan antibiotik secara tidak
rasional justru memunculkan bermacam bakteri yang bermutasi, dan resisten
terhadap antibiotik (superbugs). Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah
secepat perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin sering menggunakan
antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak sering jatuh sakit. Belum
lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti kerap ditemukan Wati, yang
juga ahli hepatologi anak ini.
Proses
menyenangkan
Selain RUD, para anggota komunitas
juga memperoleh informasi obyektif menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem
klasik seperti anak susah makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang
tergopoh-gopoh menjejali anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti
pula dengan memberi anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu
formula.
”Beredarnya susu bubuk yang
mengklaim bisa menjadi pengganti makanan lengkap juga banyak dipahami orangtua
secara sesat. Padahal, makan itu proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan
unsur hiburan. Sebagian orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang
bereksperimen dengan menu agar disukai anak,” kata
Wati.
Gempuran iklan susu formula di media
massa juga dapat
mendoktrin sebagian orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi
hingga usia enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia di atas
satu tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa pengawet, yang
telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature (UHT) atau pasteurisasi.
Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai zat penting untuk perkembangan otak
hanyalah klaim yang tidak berlandaskan prinsip ilmiah evidence based medicine
(EBM).
”Di luar negeri, anak di atas satu
tahun masih minum formula akan ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun,
susu bukan segalanya. Gizi anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham
piramida makanan. Siapa bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat,”
tutur Wati yang prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut
dia, semakin tak etis.
Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku
dulu sempat termakan iklan susu formula. Susu berharga ratusan ribu rupiah itu
dibelinya demi sang buah hati. Agen pemasaran susu formula kerap meneleponnya,
membujuk dia agar anaknya diberi susu formula supaya
gemuk.
”Sekarang enggak lagi. Mendingan
uangnya ditabung untuk pendidikan anak kelak. Tetapi orang-orang, bahkan
keluarga sendiri, sering sinis. Mereka bilang, kok anakku dikasih susu murah,
padahal kedua orangtuanya bekerja,” ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di
kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.
Tanpa tes
alergi
Sebagian dokter pun sering kali
terlalu mudah mendiagnosis seorang anak alergi susu sapi, tanpa melakukan tes
alergi terlebih dahulu. Pujiati pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya
susu bubuk kedelai yang harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi
minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak
bermasalah.
Anak Pujiati dan Yosi yang meminum
susu sapi biasa tetap sehat, lincah, dan mudah buang air besar meskipun mereka
sama sekali tidak lagi mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu
makan.
Hal krusial lain dalam masalah
kesehatan anak adalah imunisasi. Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi,
mulai dari isu autisme hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset
seperti WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of
Medicine (IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) tidak
berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan divaksinasi secara
simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, mengurangi risiko tertular
penyakit di rumah sakit, serta anak cepat terbentengi
imunitasnya.
Belum lagi dokter yang
”bereksperimen” dengan meresepkan obat yang tidak perlu untuk mengurangi efek
demam dari imunisasi.
”Anak saya pernah diresepkan luminal
setelah imunisasi DPT (difteri-pertusis-tetanus). Padahal, luminal itu obat
penenang saraf. Katanya, biar orangtua enggak repot,” tutur Alia Indardi (34),
ibu dari tiga anak, yang tinggal di Jatiwaringin,
Bekasi.
Alia lantas mengatakan kepada dokter
tersebut bahwa dia tidak akan menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari
imunisasi adalah gejala yang normal. Jika anaknya terganggu dengan demam
tersebut, pemberian obat penurun panas saja sudah
mencukupi.
Untuk anak yang sedang kejang saja,
luminal sudah tidak direkomendasikan lagi. ”Coba kalau pasiennya tidak memiliki
informasi yang cukup dan berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. Jadilah
anak itu dikasih obat penenang saraf,” ujar Alia.
Agar Bayi Tumbuh
Sehat
* Untuk memulai kehidupan yang
berkualitas pada buah hati Anda, pastikan tempat bersalin yang Anda pilih
mendukung ASI eksklusif.
* Segera sentuhkan puting susu
ibu pada mulut bayi segera setelah dia dilahirkan.
* Setelah itu pastikan juga bayi
segera divaksinasi hepatitis B segera setelah
lahir.
* Ketika
anak sakit, tanyakan kepada dokter, apa penyebabnya dan bagaimana tindakan yang
perlu dilakukan. Sebaiknya Anda tidak semata-mata bertanya tentang apa obatnya
saja.
* Jangan
segan untuk terus bertanya tentang hal yang ingin Anda ketahui untuk kesehatan
anak meskipun sang dokter terkesan malas menjawab. Oleh karena itulah, Anda
tidak perlu ”ikut-ikutan” untuk selalu memilih dokter yang dibanjiri
pasien.
*
Hindari penggunaan beragam obat pada saat yang sama (polifarmasi), untuk kondisi
yang tidak perlu. Hindari antibiotik jika sakit disebabkan virus. Infeksi karena
bakteri pada radang tenggorokan, misalnya, perlu bukti kultur bakteri dengan
mengambil usap tenggorok.
* Jika
memang anak memerlukan antibiotik, pastikan dokter meresepkan antibiotik
spektrum sempit yang bekerja pada bakteri yang dituju. Infeksi ringan pada
saluran napas, telinga, atau sinus hanya perlu antibiotik yang bekerja pada gram
positif. Tak ada salahnya berkonsultasi dahulu dengan ahli farmakologi—secara
online misalnya—sebelum obat dikonsumsi anak.
Fotokopi
resep
Fotokopi semua resep yang diberikan
dokter dan diarsip. Hal ini dapat membantu Anda jika anak mengalami reaksi efek
samping obat. Hal serupa juga baik dilakukan untuk seluruh anggota keluarga jika
memperoleh resep dokter.
Jangan pernah memberikan nomor
telepon rumah, seluler, ataupun nomor telepon kantor Anda kepada agen pemasaran
produk susu formula/makanan bayi di pasar swalayan. Sebab, boleh jadi nantinya
Anda akan terus ”diteror”. Maksudnya, ditelepon dan dibujuk supaya anak Anda
terus mengonsumsi produk mereka.
Ikuti dan pantau perkembangan
masalah kesehatan dari situs-situs terpercaya yang dapat dijadikan sumber
informasi. Misalnya, www.sehatgroups.web.id, www.mayoclinic.com,
www.iwandarmansjah.web.id, www.idai.or.id, www.who.org, www.aap.org,
www.cdc.gov, www.ibfan.org, dan www.breastfeeding.com. (SARIE
FEBRIANE)
 | Poligami | Oct 17, '06 12:24 AM for everyone |
Maria
Ulfah Anshor ( Mantan Ketum Fatayat NU)
:
" Dalam masyarakat
poligami selalu dikaitkan dengan aspek teologis, dlm hal ini ajaran islam.
Para pelaku poligami berdalih mempraktikkan
poligami berarti : menjalankan sunah Rasul, melaksanakan ajaran islam, ibadah
untuk istri yang mengijinkan akan masuk surga. Namun jarang sekali bahkan hampir
tidak pernah diungkapkan kehidupan perkawinan Nabi Muhammad yang
sesungguhnya.
Dampak negatif poligami
: pada saat suami kuat ekonominya istri2 dan anak2 hidup rukun, pada saat wafat
bisa saja terjadi perebutan warisan. Hal ini kadang tidak dipertimbangkan wanita
yang bersedia menjadi istri ke 2, 3 dstnya.
Prof.
Dr Siti Musdah Mulia menulis :
" Rasulullah yang
tumbuh di lingkungan tradisi poligami, justru memilih hanya beristri satu.
Pernikahan Rasulullah dengan Siti Khadijah penuh kebahagiaan berlangsung selama
28 tahun, hingga Siti Khadijah meninggal dunia. Padahal di masa itu Rasulullah
pantas berpoligami karena semua persyaratan poligami dimiliknya : beliau tokoh
masyarakat yang disegani,berwajah rupawan, simpatik dan mapu berbuat
adil.
Rasul menikah lagi
setelah 3 tahun wafatnya Siti Khadijah. Alasan menikahi lebih dari satu wanita
karana tanggung jawabnya yang besar mengembangkan syiar Islam. Kondisi
masyarakat yang bersuku-suku memaksa Rasul harus menjalani kominikasi luas, agar
dapat mendukung perjuangannya. Perkawinan dianggap sebagai alat komunikasi yang
strategis. Wanita pertama yang dinikahi Rasul setelah wafatnya Siti Khadijah
adalah Sudah binti Zam'ah, janda berusia 65 tahun, ketika itu Rasul berusia 54
th. Semua janda yang dinikahi Rasulullah adalah janda yang suaminya mati syahid
saat berperang membela Islam.
Nabi Muhammad secara
tegas melarang menantunya Ali Bin Abi Thalib menduakan Fatimah, putrinya.
Kecuali jika dia sudah menceraikannya. Menurut Rasul jika Ali menikah lagi
berarti menyakiti hati Fatimah, dan menyakiti Fatimah berarti menyakiti beliau.
Hadist ini membuktikan Rasul tidak setuju berpoligami.
Ahmad Baso :
Istri-istri yang dinikahi Nabi setelah Siti Khadijah wafat rata-rata berumur di
atas 60 th. kecuali Siti Aisyah. Aisyah memiliki ingatan yang sangat kuat, dan
ini mendukung dalam menghafal hadist dan sunah Rasul, serta membantu dalam syiar
Islam.
Pendapat saya
(betayanti) : jaman sekarang syiar islam meminimalkan perang dan hadist serta
sunah rasul sudah dibukukan. Jadi poligami seperti yang dilakukan Rasulullah
tidak perlu lagi. Andaikan istri tidak mempunyai anak, kita bisa mengasuh dan
menyantuni anak yatim dan terlantar. Sekarang bukan jaman feodalisme, yang harus
ada pewaris tahta, karena ketakutan hartanya hilang. Tanamkan pada setiap wanita
bahwa lebih baik tetap menjadi perawan tua atau menjanda daripada merebut suami
orang.
Intinya
: Poligami bukan takdir, tapi pilihan. Sebelum memilih
tentu harus dipikirkan ribuan kali baik buruknya.
Praktek
poligami saat ini bertentangan dengan sunah Rasul
Prof.
DR. Achmad Mubarok MA :
Poligami sesungguhnya
merupakan fitrah hidup, artinya dibenci dan dimusuhi seperti apapun praktek
poligami selalu ada. Pada masayarakat Barat yang melarang poligami secara hukum,
maka prakteknya banyak suami punya wanita selingkuhan. Jika ada kelompok wanita
yang memiliki seterotip kepada laki-laki dengan mengatakan dasar laki-laki nggak
boleh lihat jidat licin, maka perlu diketahui bahwa semua isteri muda adalah
perempuan juga. Artinya pada sebagian perempuan, poligami merupakan jalan
keluar, apaboleh buat menjadi isteri kedua daripada tidak.Dalam hidup tidak
semua yang kita terima itu yang kita inginkan. Inginnya menjadi isteri
satu-satunya, eh malah jadi isteri ketiga.
Agama Islam menempatkan
poligami sebagai pintu darurat, bukan pintu yang selalu terbuka, maknanya ada
memang lelaki tertentu yang memiliki potensi lebih, yang tidak cukup dengan satu
isteri, atau ada kasus, yang mengantar poligami menjadi solusi, misalnya
isterinya mandul. Islam menyalurkan fitrah manusia dengan aturan dan etika.
Etika bagi laki-laki yang apa boleh buat menjalani poligami, ia harus berlaku
adil terhadap isteri-isterinya meski adil itu sangat berat. Ada orang yang berpoligami
secara jujur dan terbuka, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang berpoligami
sekedar menuruti syahwat seksual tanpa
tanggungjawab.
Berikut ini kasus rumah
tangga yang menjurus pada poligami, tetapi akhirnya si lekaki mengurungkan
niatnya karena sadar akan tanggungjawab. Waktu itu saya sebagai konselor
keluarga, dan dia datang kepada saya sebagai klient. Kasus ini saya rekam dan
saya muat di buku saya Konseling Agama Teori dan
Kasus.
Silahkan
dibaca:
Seorang pegawai
perusahaan swasta bermaksud poligami. Ia seorang sarjana ekonomi yang baru akrab
dengan agama setelah bergaul dengan rekan sekerja yang kebanyakan taat beragama
dan agak "fundamentalis". Lingkungan pergaulannya adalah masyarakat
professional, tetapi mereka mempunyai corak keberagamaan yang cukup kental,
dengan menonjolkan simbol-simbol tertentu, seperti shalat awal waktu, memelihara
jenggot dan juga poligami. Di lingkungan grup pengajiannya, poligami dipandang
sebagai sunah Nabi yang dianjurkan, sehingga dia dengan semangat mengikuti
sunnah Nabi juga bermaksud nikah lagi. Isterinya berasal dari lingkungan
masyarakat pesantren, yang juga taat beragama, tetapi simbol-simbol
keberagamaannya berbeda dengan lingkungan pengajian suaminya. Isterinya lebih
respek kepada kyai di pesantrennya dibanding guru ngaji suaminya yang
Insinyur.
Dalam hal rencana nikah
lagi, terjadi peselisihan hebat antara suami isteri itu, dan menariknya
masing-masing berdalil dengan agama. Suami menganggap rencana nikah lagi itu
sebagai perwujudan dari mengikuti sunnah Rasul, sementara isteri memandangnya
sebagai akal bulus, yakni menjadikan agama sebagai kedok untuk mencari kepuasan
syahwat. Karena keduanya memang orang yang patuh kepada agama, maka pertentangan
pendapat suami isteri itu disepakati untuk mencari pembenarannya. Suami
memanggil guru ngajinya untuk menasehati isterinya agar patuh kepada suami,
sementara isterinya mengajak suaminya silaturrahmi kepada gurunya di pesantren,
sekaligus untuk meminta nasehatnya tentang rencana nikah lagi itu. Sang isteri
pergi dengan semangat karena yakin pasti pak kyai, gurunya di pesantren itu
pasti ada di pihaknya, dan sang suami juga semangat, karena yakin bahwa pak kyai
itu lebih mengerti tentang keharusan mengikuti sunnah Rasul, apa lagi pak kyai
juga berpoligami.
Anatomi
masalah
Sebenarnya, sang isteri
tidak bersedia dimadu, lebih didorong oleh perasaanya sebagai wanita. Ia tidak
begitu antipati terhadap poligami, karena ia sendiri adalah puteri dari isteri
muda seorang kyai, dan ia merasa OK-OK saja berhubungan dengan saudara-saudara
tiri dan bahkan ibu tirinya. Akan tetapi dalam hal rencana nikah lagi suaminya,
disamping secara naluriah ia tidak bisa menerima, ia juga tidak percaya terhadap
otoritas guru ngaji suaminya yang selalu menekankan kewajiban seorang isteri
harus patuh kepada suami. Di mata sang isteri guru suaminya itu bukan orang
'alim, sebagaimana juga suaminya, meskipun mereka itu sarjana dan professional,
tetapi bukan dalam bidang agama.
Sementara itu, sang
suami yang baru kenal agama setelah berada di lingkungan kerja baru itu merasa
bahwa poligami itu mengandung nilai keutamaan agama. Ia bermaksud nikah lagi
dengan semangat ibadah, dan sudah barang tentu ada juga motif kepada pengalaman
baru hubungan seksual, tetapi ia sama sekali tidak mau terima jika dituduh
isterinya bahwa rencana nikah lagi itu hanya akal bulus saja untuk mencari
kepuasan seksual. Ia bahkan tidak pacaran dengan calon isteri keduanya itu,
karena calon isterinya itu adalah orang yang d |
|